Kebiasaan Sepele Sehari-hari yang Ternyata Merusak Gusi

oleh | Sep 14, 2026 | Cerita Gigi | 0 Komentar

Banyak orang baru memperhatikan kesehatan gusi ketika muncul darah saat menyikat gigi, gusi terlihat turun, gigi terasa lebih panjang, atau mulut mulai sering berbau. Padahal, masalah pada gusi tidak selalu muncul karena satu kebiasaan besar. Justru, beberapa kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari dapat membuat gusi lebih mudah mengalami iritasi, peradangan, atau bahkan kerusakan secara perlahan.

Misalnya, menyikat gigi terlalu keras sering dianggap sebagai cara agar gigi semakin bersih. Begitu juga dengan kebiasaan melewatkan pembersihan sela gigi karena merasa sudah cukup menyikat gigi. Selain itu, merokok, menggunakan tusuk gigi secara kasar, atau membiarkan plak menumpuk juga dapat memberikan dampak terhadap kesehatan jaringan gusi.

Jawaban Singkat: Kebiasaan Apa Saja yang Bisa Merusak Gusi?

Beberapa kebiasaan sehari-hari yang dapat meningkatkan risiko masalah gusi antara lain:

  • Menyikat gigi terlalu keras atau menggunakan tekanan berlebihan.
  • Menggunakan sikat gigi dengan bulu terlalu keras.
  • Jarang membersihkan sela-sela gigi.
  • Membiarkan plak menumpuk dan menunda pemeriksaan gigi.
  • Menggunakan tusuk gigi secara kasar dan berulang.
  • Merokok atau menggunakan produk tembakau.
  • Menggigit kuku, pulpen, es batu, atau benda keras.
  • Mengabaikan gusi yang sering berdarah.
  • Menggunakan produk pemutih atau pembersih gigi secara berlebihan tanpa memperhatikan kondisi gusi.
  • Menganggap gusi turun sebagai kondisi normal akibat usia dan tidak memeriksakannya.

Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua masalah gusi disebabkan oleh kebiasaan. Kondisi seperti periodontitis, posisi gigi, bentuk jaringan gusi, faktor anatomi, dan beberapa kondisi medis juga dapat berperan.

1. Menyikat Gigi Terlalu Keras

Ini mungkin salah satu kebiasaan yang paling sering dilakukan tanpa disadari. Sebagian orang mengira semakin kuat menyikat gigi, semakin banyak plak yang akan terangkat.

Padahal, membersihkan gigi bukan berarti harus memberikan tekanan sebesar mungkin. Gerakan yang terlalu agresif dapat menyebabkan trauma pada jaringan lunak, terutama jika dilakukan berulang kali pada area yang sama.

Dalam systematic review mengenai keamanan sikat gigi, sikat dengan bulu keras ditemukan menghasilkan lebih banyak lesi pada gusi dibandingkan sikat dengan bulu medium dan soft. Peneliti juga menyimpulkan bahwa sikat berbulu soft atau extra-soft cenderung lebih aman untuk jaringan lunak mulut (Zimmer et al., 2018).

Karena itu, jika setelah menyikat gigi gusi sering terasa perih atau terlihat seperti mengalami luka kecil, jangan langsung menyimpulkan bahwa Anda harus menyikat lebih kuat. Bisa jadi masalahnya justru terletak pada tekanan dan teknik menyikat.

2. Menganggap Sikat Gigi Keras Lebih Efektif

Sikat gigi dengan bulu keras memang dapat memberikan sensasi seolah-olah gigi lebih bersih. Namun, rasa “kesat” bukan ukuran bahwa gusi dan gigi mendapatkan perawatan yang lebih baik.

Yang lebih penting adalah kemampuan mengendalikan plak tanpa memberikan trauma berlebihan pada jaringan gusi.

Menariknya, penelitian mengenai sikat gigi tidak menunjukkan bahwa penggunaan sikat elektrik otomatis lebih aman daripada sikat manual untuk semua orang. Systematic review dan meta-analysis terbaru pada 2026 menyimpulkan bahwa bukti saat ini belum menunjukkan perbedaan yang jelas antara sikat manual dan powered toothbrush dalam perkembangan resesi gusi. Kepastian buktinya juga dinilai sangat rendah (Molina et al., 2026).

Jadi, yang perlu diperhatikan bukan sekadar memilih “manual atau elektrik”, tetapi juga bagaimana cara menggunakannya.

3. Menyikat Gigi Terlalu Lama di Satu Area

Kebiasaan menyikat gigi dengan gerakan berulang-ulang pada satu titik juga dapat meningkatkan gesekan pada jaringan gusi.

Misalnya, seseorang merasa bagian gigi depan belum cukup bersih sehingga terus menggosok bagian tersebut dengan tekanan kuat. Jika kebiasaan ini dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun, jaringan di sekitar area tersebut dapat mengalami tekanan mekanis berulang.

Namun, hubungan antara menyikat gigi dan resesi gusi tidak sesederhana “sering menyikat gigi pasti membuat gusi turun”. Penelitian menunjukkan bahwa resesi gusi memiliki banyak faktor penyebab, sehingga teknik, tekanan, kondisi jaringan gusi, plak, penyakit periodontal, posisi gigi, dan faktor lainnya perlu dipertimbangkan.

4. Jarang Membersihkan Sela-Sela Gigi

“Saya sudah sikat gigi dua kali sehari” tidak selalu berarti gusi sudah mendapatkan perawatan yang optimal.

Sikat gigi terutama membersihkan permukaan gigi yang mudah dijangkau. Sementara itu, area di antara gigi dapat menjadi tempat plak dan sisa makanan bertahan.

Jika plak terus menumpuk di sekitar garis gusi, jaringan gusi dapat mengalami peradangan. Kondisinya dapat ditandai dengan gusi merah, mudah berdarah, bengkak, atau terasa sensitif.

Pembersihan interdental, seperti menggunakan dental floss atau interdental brush yang sesuai, dapat membantu membersihkan area yang tidak mudah dijangkau sikat gigi. Beberapa penelitian juga menunjukkan manfaat tambahan alat pembersih interdental terhadap plak dan perdarahan gusi.

Jadi, kebiasaan melewatkan sela-sela gigi setiap hari mungkin terlihat sepele, tetapi efeknya dapat terakumulasi dalam jangka panjang.

5. Membiarkan Plak Menumpuk Karena Gusi Tidak Terasa Sakit

Salah satu alasan orang mengabaikan kesehatan gusi adalah karena masalah awal sering tidak terasa sakit.

Gusi yang mengalami peradangan dapat terlihat merah atau mudah berdarah sebelum muncul keluhan yang lebih serius. Karena itu, menunggu sampai gusi terasa sakit bukan strategi yang baik untuk menjaga kesehatan periodontal.

Menurut systematic review dan meta-analysis Marschner et al. (2025), plak gigi memiliki hubungan yang signifikan dengan gingival recession. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa periodontitis memiliki hubungan yang kuat dengan resesi gusi.

Artinya, menjaga plak tetap terkendali bukan hanya tentang membuat napas lebih segar atau gigi terlihat bersih. Kebersihan mulut juga berhubungan dengan kondisi jaringan yang menopang gigi.

6. Mengabaikan Gusi yang Sering Berdarah

“Gusi saya berdarah karena sikat giginya.” Kalimat seperti ini cukup sering digunakan untuk menjelaskan gusi berdarah.

Memang, sikat gigi dengan tekanan berlebihan dapat menyebabkan trauma. Namun, gusi yang sering berdarah juga dapat menjadi tanda adanya peradangan.

Karena itu, jangan langsung mengganti sikat gigi tanpa mencari tahu penyebabnya. Perhatikan kapan perdarahan terjadi, apakah hanya pada satu area, apakah gusi terlihat merah atau bengkak, serta apakah terdapat plak atau karang gigi.

Jika perdarahan terjadi berulang kali meskipun Anda sudah memperbaiki kebersihan mulut, pemeriksaan dokter gigi diperlukan untuk mencari penyebabnya.

7. Menggunakan Tusuk Gigi dengan Gerakan Kasar

Tusuk gigi dapat membantu mengeluarkan sisa makanan, tetapi penggunaannya secara kasar dan berulang dapat melukai jaringan di antara gigi.

Masalahnya bukan hanya pada alatnya, tetapi juga cara menggunakannya. Jika ujung tusuk gigi ditekan terlalu dalam ke gusi, jaringan dapat mengalami iritasi atau luka.

Jika makanan sering tersangkut di tempat yang sama, justru sebaiknya cari tahu penyebabnya. Bisa terdapat celah tertentu, bentuk tambalan yang kurang ideal, karies, posisi gigi, atau kondisi periodontal yang perlu diperiksa.

8. Merokok dan Menganggap Gusi Tetap Baik-baik Saja

Merokok bukan hanya masalah paru-paru. Jaringan periodontal juga dapat terdampak.

Systematic review mengenai hubungan merokok dengan penyakit periodontal menemukan bahwa merokok berkaitan dengan peningkatan kejadian dan perkembangan periodontitis. Dalam meta-analysis tersebut, pooled risk ratio untuk kejadian periodontitis pada perokok sekitar 1,85 dibandingkan kelompok pembanding (Alqahtani et al., 2023).

Hal penting lainnya adalah jangan menggunakan “gusi tidak berdarah” sebagai satu-satunya tanda bahwa kondisi periodontal baik. Merokok dapat memengaruhi respons jaringan dan tanda klinis tertentu, sehingga kondisi periodontal tetap perlu dinilai secara menyeluruh.

Karena itu, jika seseorang merokok dan jarang memeriksakan gigi karena merasa gusinya baik-baik saja, pemeriksaan rutin tetap penting.

9. Menggigit Kuku, Pulpen, Es Batu, atau Benda Keras

Menggigit kuku atau pulpen mungkin terlihat sebagai kebiasaan kecil. Namun, tekanan berulang pada gigi dan jaringan di sekitarnya bukan kebiasaan yang ideal.

Mengunyah es batu juga memberikan tekanan mekanis yang besar pada gigi. Risiko utamanya memang lebih berkaitan dengan kerusakan struktur gigi, seperti retak atau patah. Namun, ketika gigi mengalami perubahan struktur atau trauma berulang, jaringan periodontal di sekitarnya juga dapat ikut terdampak.

Jika Anda sering melakukan kebiasaan ini tanpa sadar, cobalah mengenali pemicunya. Sebagian orang melakukannya ketika sedang bekerja, berpikir, cemas, atau bosan.

10. Menganggap Gusi Turun sebagai Hal Normal karena Bertambah Usia

Gigi yang terlihat semakin panjang tidak selalu berarti “gusi memang turun karena umur”. Resesi gusi memiliki banyak kemungkinan penyebab.

Systematic review dan meta-analysis Marschner et al. (2025) menemukan berbagai faktor yang berhubungan dengan resesi gusi, termasuk plak gigi, periodontitis, merokok, trauma oklusal, frenulum yang tinggi, konsumsi alkohol, dan riwayat perawatan periodontal.

Karena itu, jika garis gusi berubah atau akar gigi mulai terlihat, kondisi tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai perubahan normal akibat usia.

Dokter gigi dapat menilai apakah perubahan tersebut merupakan resesi gusi, akibat peradangan, perubahan bentuk jaringan, atau masalah periodontal lainnya.

11. Mengabaikan Cara Menyikat Gigi yang Benar

Teknik menyikat gigi memang penting, tetapi tidak ada satu teknik yang terbukti menjadi solusi mutlak untuk semua orang.

Systematic review dan network meta-analysis oleh Deinzer et al. (2024) menunjukkan bahwa bukti mengenai perbedaan berbagai teknik menyikat gigi terhadap penghilangan plak dan gingivitis masih terbatas dan tingkat kepastiannya bervariasi.

Prinsip yang lebih penting adalah menyikat secara teratur, menjangkau seluruh permukaan gigi, membersihkan sepanjang garis gusi dengan lembut, dan menghindari tekanan berlebihan.

Dengan kata lain, menyikat gigi bukan kompetisi siapa yang paling kuat menggosok gigi.

12. Terlalu Mengandalkan Obat Kumur

Obat kumur dapat menjadi pelengkap dalam menjaga kebersihan mulut, tetapi tidak seharusnya menggantikan sikat gigi dan pembersihan sela gigi.

Beberapa jenis obat kumur memang memiliki bukti untuk membantu mengendalikan plak atau gingivitis dalam kondisi tertentu. Namun, efektivitasnya bergantung pada bahan aktif, konsentrasi, cara penggunaan, dan kondisi pasien.

Karena itu, jangan menganggap berkumur dapat “menghapus” kebutuhan untuk membersihkan plak secara mekanis.

Jika dokter gigi memberikan obat kumur tertentu, gunakan sesuai petunjuk. Untuk penggunaan jangka panjang, terutama produk antiseptik tertentu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu agar manfaat dan efek sampingnya dapat dipertimbangkan.

13. Bernapas Melalui Mulut dalam Waktu Lama

Kebiasaan bernapas melalui mulut bukan penyebab utama masalah gusi pada setiap orang. Namun, kondisi ini dapat berkaitan dengan perubahan lingkungan di dalam mulut.

Systematic review terbaru pada anak dan remaja menemukan bahwa mouth breathing berhubungan dengan peningkatan perdarahan gusi, akumulasi plak, dan beberapa perubahan gingiva. Namun, sebagian besar bukti berasal dari studi observasional sehingga hubungan sebab-akibat perlu ditafsirkan dengan hati-hati.

Jika seseorang sering bernapas melalui mulut karena hidung tersumbat, alergi, atau masalah saluran napas, penyebab dasarnya juga perlu diperhatikan.

Apakah Semua Kebiasaan Ini Pasti Membuat Gusi Rusak?

Tidak.

Ini adalah bagian yang penting. Kebiasaan tertentu dapat meningkatkan risiko, tetapi kondisi gusi seseorang tidak ditentukan oleh satu kebiasaan saja.

Misalnya, dua orang dapat sama-sama menyikat gigi dengan sikat manual, tetapi kondisi gusinya berbeda. Salah satunya mungkin memiliki jaringan gusi yang lebih tipis, posisi gigi tertentu, riwayat ortodonti, plak lebih banyak, atau penyakit periodontal.

Penelitian Marschner et al. (2025) juga menunjukkan bahwa resesi gusi bersifat multifaktorial. Karena itu, pendekatan terbaik bukan mencari satu “penyebab tunggal”, melainkan mengidentifikasi faktor yang benar-benar terjadi pada masing-masing orang.

Bagaimana Cara Menjaga Gusi Tetap Sehat?

Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan sehari-hari antara lain:

  • Gunakan sikat gigi dengan bulu soft atau extra-soft.
  • Sikat gigi dua kali sehari dengan tekanan yang lembut dan terkontrol.
  • Bersihkan sela gigi secara rutin menggunakan metode yang sesuai.
  • Gunakan pasta gigi berfluoride sesuai kebutuhan.
  • Jangan mengabaikan gusi yang sering berdarah.
  • Hindari merokok dan produk tembakau.
  • Hindari menggigit benda keras seperti es batu atau pulpen.
  • Jangan menggunakan tusuk gigi secara kasar.
  • Periksakan gigi secara berkala sesuai kondisi masing-masing.
  • Segera periksa jika gusi terlihat turun, gigi terasa goyang, atau terdapat perubahan yang semakin jelas.

Selain itu, jangan hanya fokus pada gigi. Saat bercermin, perhatikan juga kondisi gusi. Gusi yang sehat umumnya tidak mudah berdarah, tidak mengalami pembengkakan yang menetap, dan tidak menunjukkan perubahan yang semakin progresif.

Fakta Menarik: Gusi Turun Tidak Selalu Berarti Anda Menyikat Gigi Terlalu Keras

Banyak orang langsung menyalahkan sikat gigi ketika melihat gusinya turun. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa resesi gusi memiliki banyak faktor.

Dalam meta-analysis Marschner et al. (2025), periodontitis, plak, merokok, trauma oklusal, faktor anatomi, dan beberapa faktor lainnya memiliki hubungan dengan resesi gusi. Artinya, memperbaiki teknik menyikat memang penting, tetapi belum tentu menyelesaikan masalah jika penyebab lainnya masih ada.

Inilah alasan pemeriksaan langsung tetap penting ketika perubahan garis gusi mulai terlihat.

Kapan Harus ke Dokter Gigi?

Jangan menunggu sampai gusi terasa sangat sakit untuk melakukan pemeriksaan. Sebaiknya konsultasikan kondisi gusi jika mengalami salah satu dari tanda berikut:

  • Gusi sering berdarah ketika menyikat gigi atau membersihkan sela gigi.
  • Gusi terlihat semakin turun atau akar gigi mulai terlihat.
  • Gigi terlihat semakin panjang tanpa perubahan kosmetik lain.
  • Gusi sering bengkak atau berwarna merah.
  • Gigi terasa goyang.
  • Napas atau bau mulut menetap meskipun kebersihan mulut sudah dijaga.
  • Gigi terasa semakin sensitif pada area yang gusinya turun.
  • Sering terdapat makanan tersangkut di area yang sama.
  • Terjadi perubahan posisi gigi.
  • Terdapat nanah di sekitar gusi.

Jika muncul pembengkakan wajah atau leher, kesulitan bernapas atau menelan, perdarahan yang tidak terkendali, atau nyeri berat dengan pembengkakan, jangan menunda pertolongan medis.

Kesimpulan

Kesehatan gusi tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering seseorang menyikat gigi. Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali—seperti menyikat terlalu keras, menggunakan sikat berbulu keras, tidak membersihkan sela gigi, menggunakan tusuk gigi secara kasar, merokok, atau mengabaikan gusi yang sering berdarah—dapat meningkatkan risiko masalah periodontal pada sebagian orang.

Namun, jangan menyimpulkan bahwa satu kebiasaan pasti menjadi penyebab gusi rusak. Resesi dan penyakit gusi memiliki penyebab yang kompleks. Faktor plak, periodontitis, merokok, anatomi jaringan, posisi gigi, trauma, dan berbagai faktor lainnya dapat saling berperan.

Karena itu, langkah terbaik adalah membangun kebiasaan perawatan yang lembut tetapi konsisten, sekaligus melakukan pemeriksaan jika muncul perubahan pada gusi.

Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang kesehatan gigi dan gusi, Anda dapat membaca informasi kesehatan gigi lainnya di Dokter Gigi Ku. Pemeriksaan rutin juga membantu menemukan masalah gusi sejak awal, sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih sulit ditangani.

Sumber Referensi Ilmiah

  1. Marschner F, Lechte C, Kanzow P, Hraský V, Pfister W. Systematic review and meta-analysis on prevalence and risk factors for gingival recession. Journal of Dentistry. 2025;155:105645.
  2. Zimmer S, et al. Are bristle stiffness and bristle end-shape related to adverse effects on soft tissues during toothbrushing? A systematic review. International Journal of Dental Hygiene. 2018.
  3. Molina C, Pimentel RPP, Oballe HJR, Muniz FWMG, Rösing CK. Influence of Manual and Powered Toothbrushes on Gingival Lesions: A Systematic Review and Meta-Analysis. International Journal of Dental Hygiene. 2026.
  4. Deinzer R, Weik U, Eidenhardt Z, Leufkens D, Sälzer S. Manual toothbrushing techniques for plaque removal and the prevention of gingivitis—A systematic review with network meta-analysis. PLOS ONE. 2024;19(7):e0306302.
  5. Alqahtani AS, et al. Periodontal Disease and Smoking: Systematic Review. 2023.
  6. Edlund P, Bertl K, Pandis N, Stavropoulos A. Efficacy of power-driven interdental cleaning tools: A systematic review and meta-analysis. Clinical and Experimental Dental Research. 2023.
  7. Silva FH, et al. Antiplaque and antigingivitis efficacy of new and worn manual toothbrushes: A systematic review and meta-analysis. International Journal of Dental Hygiene. 2023.
  8. Systematic review. Dental Caries and Periodontal Outcomes in Mouth-Breathing Children and Adolescents. 2025.

Catatan: Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter gigi. Penyebab masalah gusi dapat berbeda pada setiap orang.