Sudah bertahun-tahun memakai behel, akhirnya gigi terlihat rapi dan kawat gigi bisa dilepas. Rasanya pasti lega! Namun, beberapa bulan kemudian, kamu menyadari ada gigi yang mulai bergeser. Bahkan, gigi depan yang sebelumnya berjejer rapi perlahan terlihat berjejal lagi.
Kondisi ini cukup membuat frustrasi. Apalagi, kamu sudah menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya untuk mendapatkan senyum yang diinginkan. Lalu, kenapa gigi bisa berantakan lagi setelah behel dilepas? Apakah berarti perawatan sebelumnya gagal?
Belum tentu. Perubahan posisi gigi setelah perawatan ortodonti dikenal sebagai relapse. Kondisi ini dapat terjadi karena jaringan di sekitar gigi masih beradaptasi, adanya tekanan dari jaringan mulut, perubahan alami seiring bertambahnya usia, atau penggunaan retainer yang tidak sesuai anjuran.
Kabar baiknya, kamu bisa mengurangi risiko pergeseran gigi dengan langkah yang tepat. Kuncinya bukan hanya merapikan gigi menggunakan behel, tetapi juga menjaga hasilnya setelah perawatan selesai.
Kenapa Gigi Bisa Berantakan Lagi Setelah Behel Dilepas?

Behel bekerja dengan memberikan tekanan terkontrol agar gigi bergerak menuju posisi yang direncanakan. Selama proses tersebut, jaringan penyangga gigi mengalami perubahan untuk menyesuaikan diri dengan posisi baru.
Namun, setelah behel dilepas, jaringan di sekitar gigi tidak langsung selesai beradaptasi. Selain itu, gigi secara alami dapat mengalami perubahan posisi sepanjang hidup. Karena itu, hasil perawatan ortodonti membutuhkan fase pemeliharaan yang disebut retensi.
Berikut beberapa penyebab gigi bisa bergeser kembali.
1. Tidak memakai retainer setelah behel dilepas
Ini merupakan salah satu penyebab penting yang perlu diperhatikan. Setelah behel dilepas, dokter biasanya memberikan retainer untuk membantu mempertahankan posisi gigi yang sudah dirapikan.
Retainer berbeda dari behel. Behel aktif menggerakkan gigi, sedangkan retainer membantu menjaga gigi agar tetap berada pada posisi yang telah dicapai.
Jika kamu tidak memakai retainer sesuai petunjuk, gigi memiliki peluang lebih besar untuk bergeser. Hal ini bisa terjadi meskipun hasil perawatan sebelumnya terlihat sangat baik.
British Orthodontic Society menjelaskan bahwa retainer diperlukan pada hampir semua kasus perawatan ortodonti untuk membantu menjaga posisi gigi. Oleh sebab itu, jangan menganggap retainer hanya sebagai aksesori tambahan setelah behel dilepas.
2. Pemakaian retainer tidak konsisten
Bagaimana jika kamu sebenarnya memiliki retainer, tetapi jarang memakainya? Risiko pergeseran gigi tetap bisa meningkat.
Misalnya, dokter meminta kamu memakai retainer setiap malam, tetapi kamu hanya menggunakannya satu atau dua kali seminggu. Kebiasaan ini membuat gigi tidak mendapatkan dukungan retensi sesuai rencana perawatan.
Awalnya, perubahan mungkin tidak terlalu terlihat. Namun, seiring waktu, beberapa gigi dapat bergeser sedikit demi sedikit.
Karena itu, ikuti jadwal pemakaian yang diberikan dokter. Jangan mengurangi durasi pemakaian hanya karena gigi terlihat rapi atau retainer terasa tidak nyaman. Jika jadwalnya sulit diikuti, bicarakan dengan dokter agar kamu mendapatkan petunjuk yang sesuai.
3. Jaringan penyangga gigi masih beradaptasi
Gigi bukan benda mati yang langsung menetap begitu saja setelah behel dilepas. Akar gigi ditopang oleh jaringan periodontal, termasuk serabut yang membantu menghubungkan gigi dengan tulang penyangganya.
Selama perawatan ortodonti, jaringan tersebut mengalami penyesuaian. Setelah posisi gigi berubah, sebagian jaringan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan keadaan baru.
Dalam masa ini, gigi masih dapat memiliki kecenderungan untuk bergerak. Itulah sebabnya fase retensi sangat penting, terutama pada periode awal setelah behel dilepas.
Namun, risiko pergeseran tidak hanya terjadi pada beberapa bulan pertama. Perubahan posisi gigi juga dapat muncul dalam jangka panjang akibat proses alami di dalam mulut.
4. Posisi gigi berubah seiring bertambahnya usia
Pernah melihat gigi depan orang dewasa menjadi lebih berjejal meskipun dahulu pernah memakai behel? Perubahan seperti ini dapat terjadi seiring bertambahnya usia.
Susunan gigi tidak selalu menetap sepanjang hidup. Perubahan pada jaringan penyangga, pola gigitan, pertumbuhan yang masih berlangsung pada sebagian orang, serta perubahan alami lainnya dapat memengaruhi posisi gigi.
Akibatnya, seseorang yang sudah menyelesaikan perawatan ortodonti bertahun-tahun lalu tetap bisa mengalami pergeseran. Jadi, gigi yang kembali sedikit berjejal tidak selalu berarti behel dahulu dipasang dengan cara yang salah.
Retainer jangka panjang dapat membantu mengurangi perubahan posisi tersebut. Dokter akan menentukan jenis retainer dan jadwal pemakaiannya berdasarkan kondisi gigi serta kebutuhan setiap pasien.
5. Retainer rusak atau tidak lagi pas
Retainer yang rusak, longgar, melengkung, atau tidak lagi pas mungkin tidak dapat mempertahankan posisi gigi dengan baik. Pada retainer cekat, kawat atau bahan perekatnya bisa terlepas sebagian tanpa disadari.
Jika hal tersebut terjadi, gigi yang tidak lagi tertahan dengan baik dapat mulai bergeser. Sementara itu, retainer lepasan yang sudah tidak pas perlu diperiksa sebelum digunakan kembali.
Karena itu, periksa kondisi retainer secara berkala. Jika retainer cekat terasa longgar atau ada bagian yang terlepas, hubungi dokter gigi. Jangan mencoba merekatkannya sendiri menggunakan lem atau bahan rumahan.
6. Ada pergerakan gigi yang tidak diinginkan meskipun retainer cekat masih terpasang
Retainer cekat biasanya berupa kawat tipis yang direkatkan pada permukaan belakang gigi. Karena terpasang terus-menerus, alat ini tidak bergantung pada ingatan pasien untuk memakainya setiap hari.
Meski demikian, retainer cekat bukan jaminan bahwa gigi tidak akan bergerak sama sekali. Kawat atau perekatnya bisa mengalami masalah. Dalam kondisi tertentu, gaya yang tidak diinginkan dari retainer juga dapat menyebabkan pergerakan gigi yang tidak direncanakan.
Sebuah tinjauan ilmiah yang terbit pada 2024 membahas relaps dan pergerakan gigi yang tidak diinginkan setelah perawatan ortodonti, termasuk pada pasien dengan retainer cekat. Tinjauan tersebut menekankan bahwa stabilitas posisi gigi dipengaruhi banyak faktor dan tidak dapat dijamin hanya dengan satu jenis alat retensi.
Jadi, meskipun kamu memakai retainer cekat, pemeriksaan berkala tetap diperlukan.
Apa Itu Relapse Ortodonti?
Relapse ortodonti adalah perubahan posisi gigi setelah perawatan ortodonti yang mengarah kembali ke kondisi maloklusi sebelumnya. Perubahannya bisa ringan, misalnya satu gigi depan mulai berputar, atau lebih nyata hingga susunan gigi terlihat berjejal kembali.
Meski begitu, tidak semua perubahan posisi gigi setelah behel dilepas merupakan relapse dalam arti kembali persis ke kondisi awal. Sebagian perubahan dapat muncul akibat proses penuaan, perubahan gigitan, atau pergerakan gigi yang tidak diinginkan.
Penelitian yang dirangkum dalam tinjauan sistematis di European Journal of Orthodontics menunjukkan bahwa stabilitas hasil ortodonti dipengaruhi berbagai faktor. Adaptasi jaringan periodontal, perubahan pertumbuhan, dan karakteristik perawatan termasuk hal yang perlu diperhatikan.
Karena penyebabnya bisa berbeda-beda, dokter perlu memeriksa kondisi gigi sebelum menentukan penanganan. Jangan langsung menyimpulkan bahwa kamu harus memakai behel lagi hanya karena satu atau dua gigi mulai bergeser.
Apa Fungsi Retainer Setelah Behel Dilepas?

Retainer berfungsi membantu mempertahankan posisi gigi setelah perawatan ortodonti aktif selesai. Alat ini memungkinkan jaringan di sekitar gigi beradaptasi sekaligus membantu mengurangi risiko pergeseran yang tidak diinginkan.
Dalam tinjauan sistematis Cochrane yang diperbarui pada 2023, para peneliti mengevaluasi berbagai metode retensi untuk menjaga posisi gigi setelah perawatan behel. Tinjauan tersebut mencakup 47 penelitian dengan total 4.377 peserta. Namun, kepastian bukti untuk banyak perbandingan masih rendah atau sangat rendah. Artinya, tidak ada satu jenis retainer yang bisa dianggap paling baik untuk semua pasien berdasarkan bukti tersebut.
Secara umum, ada dua kelompok retainer yang sering digunakan.
Retainer lepasan
Retainer lepasan dapat dilepas saat membersihkan gigi dan alat, sesuai petunjuk dokter. Bentuknya bisa berupa plastik transparan yang mengikuti permukaan gigi atau retainer dengan kombinasi kawat dan bahan akrilik.
Kelebihannya adalah kamu dapat melepasnya untuk membersihkan gigi. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kepatuhan terhadap jadwal pemakaian. Jika sering lupa atau sengaja tidak memakainya, gigi dapat bergeser.
Retainer cekat
Retainer cekat biasanya berupa kawat yang direkatkan pada bagian belakang beberapa gigi. Karena terus berada di mulut, alat ini tidak perlu dipasang dan dilepas setiap hari oleh pasien.
Meski praktis, retainer cekat membutuhkan kebersihan mulut yang baik. Plak dapat menumpuk di sekitar kawat, sehingga kamu perlu membersihkan area tersebut dengan teliti. Selain itu, dokter perlu memeriksa apakah kawat dan perekatnya masih berfungsi dengan baik.
Pilihan retainer bergantung pada kondisi gigi, jenis masalah ortodonti sebelumnya, risiko pergeseran, dan kemampuan pasien mengikuti instruksi. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin merekomendasikan kombinasi retainer lepasan dan cekat.
Berapa Lama Harus Memakai Retainer Setelah Behel?
Tidak ada satu durasi yang berlaku sama untuk semua orang. Lama pemakaian retainer bergantung pada kondisi awal gigi, hasil perawatan, jenis retainer, dan penilaian dokter yang menangani.
Pada sebagian pasien, dokter meminta retainer lepasan dipakai lebih sering pada tahap awal. Setelah itu, jadwalnya mungkin berubah menjadi pemakaian malam hari. Namun, jadwal tersebut tidak boleh kamu tentukan sendiri karena kebutuhan setiap pasien berbeda.
Untuk mempertahankan susunan gigi dalam jangka panjang, banyak pasien perlu melanjutkan pemakaian retainer sesuai anjuran dokter selama bertahun-tahun, bahkan tanpa batas waktu tertentu. Hal ini karena perubahan posisi gigi dapat terjadi sepanjang hidup.
Jangan berhenti memakai retainer hanya karena merasa gigi sudah stabil. Sebaliknya, jangan pula mengubah jadwal pemakaian menjadi lebih lama atau lebih singkat tanpa berkonsultasi jika dokter telah memberikan instruksi khusus.
Tanda-Tanda Gigi Mulai Bergeser Setelah Behel Dilepas
Relapse tidak selalu langsung terlihat jelas. Karena itu, perhatikan beberapa perubahan berikut:
- Gigi depan mulai tampak berjejal atau bertumpuk.
- Ada gigi yang terlihat berputar atau berubah arah.
- Muncul celah kecil di antara gigi yang sebelumnya rapat.
- Gigitan terasa berbeda saat gigi atas dan bawah bertemu.
- Retainer lepasan terasa lebih ketat daripada biasanya atau tidak dapat terpasang dengan nyaman.
- Retainer cekat terasa longgar atau ada bagian perekat yang terlepas.
Jika kamu menemukan salah satu tanda tersebut, sebaiknya lakukan pemeriksaan. Perubahan kecil yang terdeteksi lebih awal dapat membantu dokter menentukan apakah retainer perlu diperbaiki, dibuat ulang, atau apakah diperlukan perawatan tambahan.
Gigi Sudah Terlanjur Berantakan Lagi, Harus Pasang Behel Ulang?
Belum tentu. Penanganan bergantung pada seberapa besar pergeseran, penyebabnya, kondisi gusi dan tulang penyangga, serta hubungan gigitan saat ini.
Jika pergeserannya ringan, dokter mungkin dapat mempertimbangkan penggunaan retainer baru atau alat ortodonti lain yang sesuai. Namun, retainer biasa dirancang untuk mempertahankan posisi gigi, bukan untuk memperbaiki pergeseran yang cukup besar.
Jika gigi sudah bergeser cukup jauh, dokter mungkin menyarankan perawatan ortodonti tambahan menggunakan behel atau clear aligner. Sebelum menentukan pilihan, dokter akan memeriksa kondisi gigi dan memastikan jaringan penyangganya sehat.
Jika retainer lama terasa sangat ketat, tidak bisa masuk sepenuhnya, atau menimbulkan rasa sakit, jangan memaksakannya. Memaksa retainer yang sudah tidak pas dapat menyebabkan tekanan yang tidak diinginkan. Hubungi dokter gigi untuk mendapatkan arahan.
Hindari juga membeli alat pelurus gigi sendiri tanpa pemeriksaan. Pergerakan gigi perlu direncanakan agar tidak menimbulkan masalah baru pada gigitan atau jaringan penyangga.
Bagaimana Cara Mencegah Gigi Berantakan Lagi Setelah Behel?
Hasil perawatan ortodonti tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan pemakaian behel, tetapi juga oleh kebiasaan setelah alat dilepas. Berikut langkah yang bisa kamu lakukan.
1. Pakai retainer sesuai jadwal
Ikuti instruksi dokter mengenai kapan, berapa lama, dan seberapa sering retainer harus dipakai. Jika kamu sering lupa, buat pengingat harian agar pemakaian menjadi kebiasaan.
2. Jaga kebersihan retainer dan gigi
Bersihkan retainer sesuai petunjuk untuk mencegah penumpukan plak dan bau. Tetap sikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluorida dan bersihkan sela gigi setiap hari. Jika menggunakan retainer cekat, mintalah petunjuk tentang cara membersihkan area di sekitar kawat.
3. Simpan retainer lepasan dengan benar
Ketika retainer dilepas, simpan di wadah yang bersih. Hindari membungkusnya dengan tisu karena alat bisa terbuang tanpa sengaja. Jauhkan juga dari panas yang dapat mengubah bentuk bahan plastik.
4. Periksa retainer secara berkala
Jangan menunggu sampai retainer patah atau gigi terlihat berantakan. Pemeriksaan berkala membantu dokter mengevaluasi kecocokan alat dan mendeteksi perubahan posisi gigi lebih awal.
5. Segera konsultasi jika ada perubahan
Jika retainer tidak lagi pas, kawat cekat terlepas, atau susunan gigi mulai berubah, hubungi dokter. Penanganan dini dapat membantu mencegah pergeseran semakin jauh.
Fakta Menarik: Retainer Bisa Tetap Dibutuhkan Bertahun-Tahun
Banyak orang mengira bahwa setelah behel dilepas dan gigi terlihat rapi, perawatan sudah benar-benar selesai. Padahal, fase retensi merupakan bagian penting dari perawatan ortodonti.
Posisi gigi dapat berubah seiring waktu, bahkan pada orang yang tidak pernah memakai behel. Retainer membantu mengendalikan perubahan tersebut setelah gigi digerakkan melalui perawatan ortodonti.
Namun, retainer bukan alat yang menjamin gigi akan tetap berada pada posisi yang sama selamanya. Alat ini perlu dirawat, diperiksa, dan digunakan sesuai arahan dokter agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Kapan Harus ke Dokter Gigi?

Segera jadwalkan pemeriksaan jika kamu melihat gigi mulai berjejal kembali, retainer terasa tidak pas, atau gigitan berubah setelah behel dilepas. Kamu juga perlu berkonsultasi jika kawat retainer cekat terlepas atau alat terasa tajam dan melukai lidah maupun gusi.
Jangan menunggu sampai perubahan menjadi semakin jelas. Semakin cepat penyebab pergeseran diketahui, semakin cepat pula dokter dapat menentukan pilihan penanganan yang sesuai.
Jika muncul nyeri berat, pembengkakan, atau luka yang tidak membaik, mintalah pemeriksaan langsung. Dokter akan mengevaluasi apakah keluhan berkaitan dengan retainer, perubahan gigitan, atau masalah kesehatan gigi dan gusi lainnya.
Kesimpulan: Behel Merapikan Gigi, Retainer Membantu Menjaga Hasilnya
Gigi bisa berantakan lagi setelah behel dilepas karena jaringan penyangga masih beradaptasi, pemakaian retainer tidak konsisten, retainer rusak atau tidak pas, maupun perubahan alami seiring bertambahnya usia. Kondisi ini disebut relapse ortodonti jika gigi bergerak kembali ke arah posisi maloklusi sebelumnya.
Untuk mengurangi risikonya, gunakan retainer sesuai petunjuk dokter, jaga kebersihan gigi dan alat, serta lakukan kontrol secara berkala. Jika gigi mulai bergeser, jangan langsung menyimpulkan bahwa kamu harus memakai behel ulang. Dokter perlu menilai kondisi dan menentukan penanganan yang tepat.
Ingat, merapikan gigi merupakan satu tahap perawatan, sedangkan mempertahankan hasilnya juga membutuhkan perhatian. Jika kamu memiliki pertanyaan tentang retainer atau perubahan susunan gigi setelah behel dilepas, kunjungi Doktergigiku.com untuk membaca informasi kesehatan gigi lainnya dan konsultasikan kebutuhan perawatanmu kepada dokter gigi.
Referensi Ilmiah dan Sumber Pendukung
- Littlewood SJ, Millett DT, Doubleday B, Bearn DR, Worthington HV. (2023). Retention procedures for stabilising tooth position after treatment with orthodontic braces. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2023(5), CD002283. https://doi.org/10.1002/14651858.CD002283.pub5
- Al-Moghrabi D, Pandis N, Fleming PS. (2016). The effects of fixed and removable orthodontic retainers: a systematic review. Progress in Orthodontics, 17, 24. https://doi.org/10.1186/s40510-016-0137-x
- Martin C, et al. (2023). Orthodontic Relapse after Fixed or Removable Retention Devices: A Systematic Review. Applied Sciences, 13(20), 11442. https://doi.org/10.3390/app132011442
- Barlin S, et al. (2021). What causes failure of fixed orthodontic retention? A systematic review and meta-analysis of clinical studies. Progress in Orthodontics. https://doi.org/10.1186/s13005-021-00281-3