Sudah rajin sikat gigi dua kali sehari, tetapi masih sering menemukan sisa makanan nyangkut di antara gigi? Di sinilah benang gigi atau dental floss berperan. Sayangnya, bagi sebagian orang, flossing terasa ribet, sulit dilakukan, bahkan membuat gusi berdarah.
Lalu, apakah flossing benar-benar wajib dilakukan setiap hari? Apakah boleh hanya mengandalkan sikat gigi? Atau sebenarnya ada cara lain yang lebih praktis untuk membersihkan sela-sela gigi?
Jawaban singkatnya: membersihkan sela-sela gigi memang penting dan sebaiknya dilakukan setiap hari, tetapi tidak harus selalu menggunakan benang gigi. Anda dapat menggunakan dental floss, interdental brush, atau alat pembersih interdental lain yang sesuai dengan kondisi gigi dan gusi.

Jawaban Singkat: Apakah Flossing Wajib?
Jika yang dimaksud “wajib” adalah membersihkan sela-sela gigi setiap hari, jawabannya adalah iya, karena sikat gigi tidak dapat membersihkan seluruh permukaan di antara gigi dengan optimal.
Namun, jika yang dimaksud adalah harus menggunakan benang gigi, jawabannya tidak selalu.
American Dental Association (ADA) merekomendasikan pembersihan interdental setidaknya sekali sehari menggunakan floss atau alat interdental lain. Pemilihannya dapat disesuaikan dengan kondisi sela gigi, kemampuan tangan, penggunaan kawat gigi, dan kenyamanan setiap orang.
Jadi, prinsip utamanya bukan sekadar “harus flossing”, tetapi jangan membiarkan area di antara gigi tidak dibersihkan.
Mengapa Sikat Gigi Saja Tidak Cukup?
Sikat gigi sangat penting untuk membersihkan permukaan gigi. Namun, bulu sikat memiliki keterbatasan ketika harus masuk ke area sempit di antara dua gigi.
Di area tersebut, sisa makanan dan biofilm atau plak dapat menumpuk. Jika plak tidak dibersihkan, bakteri dapat berkontribusi terhadap peradangan gusi dan masalah kesehatan gigi lainnya.
ADA menjelaskan bahwa sikat gigi tidak dapat membersihkan area sempit di antara gigi secara efektif. Karena itu, pembersihan interdental menjadi pelengkap dari rutinitas menyikat gigi.
Dengan demikian, menyikat gigi dan membersihkan sela-sela gigi sebenarnya bukan dua pilihan yang saling menggantikan. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Apa yang Terjadi Jika Tidak Pernah Membersihkan Sela Gigi?
Ketika area interdental tidak dibersihkan, plak dapat bertahan di tempat yang sulit dijangkau sikat gigi.
Dalam jangka waktu tertentu, kondisi tersebut dapat berhubungan dengan peradangan gusi atau gingivitis. Gusi dapat menjadi lebih merah, bengkak, dan mudah berdarah.
Plak yang tidak dibersihkan juga dapat mengalami mineralisasi dan berubah menjadi karang gigi. Berbeda dengan plak, karang gigi tidak dapat dihilangkan hanya dengan sikat gigi dan biasanya membutuhkan pembersihan profesional.
Karena itu, jangan menunggu sampai gusi berdarah atau makanan terus-menerus tersangkut untuk mulai membersihkan sela gigi.

Apakah Flossing Benar-Benar Efektif?
Di sinilah pembahasannya menjadi lebih menarik.
Secara teori, flossing dapat membersihkan plak dari area yang tidak terjangkau sikat gigi. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada cara penggunaan.
Review ilmiah mengenai pembersihan interdental menunjukkan bahwa manfaat floss dapat bervariasi. Salah satu systematic review yang membandingkan berbagai alat pembersih interdental menemukan bahwa penggunaan floss atau interdental brush bersama sikat gigi dapat membantu mengurangi gingivitis atau plak dibandingkan sikat gigi saja. Namun, kepastian bukti keseluruhan masih rendah hingga sangat rendah untuk sejumlah hasil.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa interdental brush dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada floss pada beberapa kondisi, terutama ketika terdapat ruang interdental yang cukup untuk memasukkan sikat kecil tersebut.
Jadi, mengatakan “flossing pasti sangat efektif untuk semua orang” juga terlalu sederhana. Sebaliknya, mengatakan “flossing tidak berguna” juga tidak tepat.
Kenapa Banyak Orang Merasa Flossing Tidak Berguna?
Salah satu alasannya adalah teknik.
Flossing bukan sekadar memasukkan benang ke sela gigi lalu menariknya keluar. Benang perlu diarahkan dengan hati-hati mengikuti kontur permukaan gigi dan masuk sedikit ke area bawah garis gusi tanpa memaksa atau melukai jaringan.
Jika seseorang hanya memasukkan benang secara kasar atau melewatkan banyak permukaan gigi, manfaatnya tentu menjadi kurang optimal.
ADA juga menyebut flossing sebagai aktivitas yang cukup technique-sensitive. Artinya, hasilnya sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang melakukan teknik tersebut.
Karena itu, jika Anda merasa flossing tidak memberikan manfaat, belum tentu masalahnya ada pada floss. Bisa jadi teknik atau konsistensinya yang perlu diperbaiki.
Apakah Gusi Berdarah Saat Flossing Itu Normal?
Banyak orang langsung berhenti flossing ketika melihat darah.
Padahal, gusi yang mudah berdarah dapat menjadi tanda adanya peradangan. Ketika plak menumpuk di sekitar garis gusi, jaringan gusi dapat menjadi lebih sensitif dan mudah mengalami perdarahan.
Namun, ini bukan berarti Anda boleh terus menarik benang dengan keras.
Gunakan teknik yang lembut dan terkontrol. Jika perdarahan terus terjadi meskipun Anda sudah melakukan pembersihan dengan benar selama beberapa hari atau minggu, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter gigi.
Gusi yang sering berdarah bukan sesuatu yang sebaiknya hanya ditutupi dengan menghentikan flossing.

Flossing vs Interdental Brush, Mana yang Lebih Bagus?
Tidak ada satu alat yang paling cocok untuk semua orang.
Dental floss biasanya sangat berguna untuk sela gigi yang rapat. Benang dapat masuk ke ruang sempit yang sulit dijangkau interdental brush.
Sementara itu, interdental brush dapat menjadi pilihan yang sangat baik ketika terdapat ruang di antara gigi yang cukup untuk memasukkan sikat kecil. Alat ini juga sering dipertimbangkan pada orang dengan masalah periodontal atau ruang interdental yang lebih terbuka.
Review mengenai berbagai alat interdental menunjukkan bahwa interdental brush dapat lebih efektif daripada floss dalam mengurangi plak dan gingivitis pada kondisi tertentu.
Karena itu, jangan memaksakan floss jika bentuk sela gigi Anda lebih cocok dibersihkan dengan interdental brush.
Bagaimana dengan Water Flosser?
Water flosser atau oral irrigator menggunakan aliran air untuk membantu membersihkan area di antara gigi dan sepanjang garis gusi.
Alat ini bisa menjadi alternatif bagi orang yang merasa kesulitan menggunakan benang gigi, termasuk sebagian pengguna kawat gigi atau orang dengan keterbatasan ketangkasan tangan.
Systematic review yang membandingkan water flosser dengan dental floss pada orang dewasa menunjukkan bahwa keduanya dapat digunakan sebagai alat pembersihan interdental, meskipun hasil penelitian berbeda-beda tergantung parameter dan desain penelitian.
Dengan demikian, water flosser bukan sekadar “flossing versi mahal”. Cara kerjanya berbeda dan manfaatnya juga perlu dilihat berdasarkan kebutuhan masing-masing orang.
Apakah Flossing Lebih Baik Sebelum atau Sesudah Sikat Gigi?
Ini juga menjadi pertanyaan yang sangat sering muncul.
Apakah harus flossing dahulu baru sikat gigi? Atau justru sikat gigi dulu kemudian flossing?
Systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan pada 2021 membandingkan flossing sebelum dan sesudah menyikat gigi. Hasilnya tidak menemukan perbedaan bermakna dalam pengurangan indeks plak antara kedua urutan tersebut.
Jadi, Anda tidak perlu terlalu stres memikirkan urutannya.
Pilih urutan yang paling membuat Anda konsisten membersihkan sela gigi.
ADA juga menyatakan bahwa flossing sebelum atau sesudah menyikat gigi sama-sama dapat diterima selama pembersihan dilakukan dengan baik.
Seberapa Sering Harus Flossing?
Untuk kebanyakan orang, rekomendasi yang praktis adalah membersihkan sela-sela gigi sekali sehari.
Anda tidak harus melakukan flossing setiap kali selesai makan.
Jika ingin lebih mudah membangun kebiasaan, banyak orang memilih melakukannya pada malam hari sebelum tidur. Dengan begitu, seluruh area mulut sudah dibersihkan sebelum Anda tidur.
Namun, waktu sebenarnya tidak harus malam. Yang terpenting adalah memilih waktu yang realistis sehingga kebiasaan tersebut dapat dilakukan secara konsisten.
Apakah Flossing Harus Dilakukan Setelah Setiap Kali Makan?
Tidak harus.
Jika ada makanan yang tersangkut setelah makan, Anda tentu boleh membersihkannya. Namun, untuk rutinitas harian, membersihkan sela gigi sekali sehari sudah menjadi rekomendasi yang praktis.
Yang jauh lebih penting adalah konsistensi daripada melakukan flossing berkali-kali tetapi hanya selama beberapa hari lalu berhenti.
Bagaimana Cara Flossing yang Benar?
Jika Anda menggunakan dental floss, lakukan dengan lembut dan sistematis.
- Ambil benang gigi secukupnya dan lilitkan pada jari sesuai teknik yang nyaman.
- Gunakan gerakan lembut untuk memasukkan benang ke sela gigi.
- Jangan menghentakkan atau memaksa benang ke gusi.
- Bentuk benang mengikuti sisi salah satu gigi sehingga menyerupai huruf “C”.
- Gerakkan benang secara perlahan ke atas dan ke bawah untuk membersihkan permukaan gigi.
- Ulangi pada sisi gigi sebelahnya.
- Gunakan bagian benang yang bersih untuk berpindah ke sela gigi berikutnya.
- Bersihkan seluruh sela gigi, termasuk bagian belakang gigi paling belakang jika dapat dijangkau.
Tujuannya bukan membuat gusi terasa sakit, tetapi mengangkat plak dari permukaan gigi dan area sekitar garis gusi.
Bagaimana Jika Flossing Terasa Terlalu Ribet?
Ini justru salah satu alasan mengapa pemilihan alat sangat penting.
Jika Anda merasa dental floss terlalu sulit digunakan, jangan langsung menyimpulkan bahwa pembersihan interdental tidak penting.
Cobalah alternatif yang lebih mudah digunakan.
- Floss pick: dapat membantu orang yang kesulitan memegang benang dengan kedua tangan.
- Interdental brush: cocok untuk sela gigi yang memiliki ruang cukup.
- Water flosser: dapat menjadi alternatif bagi sebagian pengguna yang merasa lebih nyaman menggunakan aliran air.
- Floss threader: dapat membantu memasukkan floss di sekitar kawat gigi atau struktur tertentu.
ADA menekankan bahwa pilihan alat interdental sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan individu. Floss dapat cocok untuk sela gigi yang rapat, sedangkan interdental brush sering lebih sesuai untuk ruang interdental yang lebih terbuka atau kondisi periodontal tertentu.
Siapa yang Mungkin Lebih Membutuhkan Pembersihan Interdental?
Pembersihan interdental penting bagi hampir semua orang yang memiliki gigi berdampingan. Namun, beberapa kelompok mungkin membutuhkan perhatian lebih terhadap teknik dan alat yang digunakan.
- Orang dengan gusi mudah berdarah.
- Orang dengan riwayat gingivitis atau penyakit periodontal.
- Orang yang memiliki ruang di antara gigi.
- Pengguna kawat gigi.
- Orang dengan implan atau restorasi gigi tertentu.
- Orang yang sering mengalami makanan tersangkut di sela gigi.
- Orang dengan keterbatasan gerakan tangan yang membuat flossing manual sulit.
Dalam kondisi tertentu, dokter gigi atau dokter gigi spesialis dapat membantu menentukan alat interdental yang paling sesuai.
Fakta Menarik: “Flossing” Tidak Selalu Berarti Benang Gigi
Fakta menariknya, istilah “flossing” sering digunakan untuk menggambarkan seluruh aktivitas membersihkan sela gigi, padahal benang gigi bukan satu-satunya alat yang tersedia.
Secara klinis, pembersihan interdental mencakup berbagai metode seperti dental floss, interdental brush, water flosser, dan alat interdental lainnya.
Karena itu, seseorang yang tidak cocok menggunakan benang gigi tetap dapat menjaga kebersihan sela giginya dengan metode lain.
Yang terpenting adalah memilih metode yang efektif, aman, sesuai dengan kondisi mulut, dan bisa dilakukan secara konsisten.
Apakah Flossing Bisa Menggantikan Scaling?
Tidak.
Flossing bertujuan membantu mengendalikan plak sehari-hari. Sementara itu, scaling digunakan untuk menghilangkan karang gigi yang sudah terbentuk.
Plak yang dibiarkan dapat mengalami mineralisasi menjadi kalkulus atau karang gigi. Setelah mengeras, deposit tersebut tidak dapat dihilangkan hanya dengan sikat gigi maupun flossing di rumah.
Jadi, jangan menggunakan flossing sebagai alasan untuk tidak melakukan pemeriksaan dan pembersihan profesional ketika memang dibutuhkan.
Kapan Harus ke Dokter Gigi?
Membersihkan sela gigi di rumah merupakan bagian penting dari perawatan, tetapi ada kondisi tertentu yang sebaiknya diperiksa oleh dokter gigi.
- Gusi sering berdarah saat menyikat atau flossing.
- Gusi tampak merah, bengkak, atau terasa nyeri.
- Gigi terasa goyang.
- Makanan sering tersangkut pada satu area tertentu.
- Terlihat karang gigi yang menumpuk.
- Bau mulut menetap meskipun kebersihan mulut sudah dijaga.
- Gusi terlihat semakin turun.
- Terdapat nyeri gigi atau gusi.
- Keluar nanah dari sekitar gigi atau gusi.
Jika Anda mengalami pembengkakan wajah atau rahang, demam, kesulitan menelan, berbicara, atau bernapas, jangan hanya mengandalkan flossing atau perawatan rumahan. Kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan segera.
Kesimpulan: Jadi, Flossing Wajib atau Boleh Dilewati?
Benang gigi memang terasa ribet bagi sebagian orang. Namun, membersihkan sela-sela gigi sebaiknya tidak dilewati begitu saja.
Sikat gigi tidak dapat membersihkan seluruh permukaan di antara gigi secara efektif. Karena itu, pembersihan interdental menjadi bagian penting dari kebersihan mulut sehari-hari. ADA merekomendasikan pembersihan sela gigi sekali sehari menggunakan floss atau alat interdental lain yang sesuai.
Namun, Anda tidak harus memaksakan diri menggunakan benang gigi jika alat tersebut tidak sesuai dengan kondisi atau kemampuan Anda.
Jika sela gigi rapat, dental floss dapat menjadi pilihan. Jika ruang interdental lebih terbuka, interdental brush mungkin lebih praktis. Sementara itu, water flosser dapat menjadi alternatif bagi sebagian orang yang membutuhkan metode berbeda.
Jadi, jangan berpikir “kalau tidak flossing berarti tidak perlu membersihkan sela gigi”. Prinsip yang lebih tepat adalah temukan metode pembersihan interdental yang cocok dan lakukan secara konsisten.
Dan jika gusi sering berdarah, bengkak, sakit, atau terdapat karang gigi, jangan hanya mengganti alat flossing. Pemeriksaan dokter gigi tetap diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Ingin mengetahui apakah kondisi gigi dan gusi Anda sudah sehat? Anda dapat melakukan pemeriksaan dan mendapatkan rekomendasi perawatan yang sesuai melalui doktergigiku.com.
Referensi Ilmiah
- Worthington HV, MacDonald L, Poklepovic Pericic T, et al. Home use of interdental cleaning devices, in addition to toothbrushing, for preventing and controlling periodontal diseases and dental caries. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2019. Ringkasan bukti menunjukkan bahwa floss atau interdental brush dapat memberikan manfaat tambahan terhadap gingivitis/plak dibandingkan menyikat gigi saja, tetapi kepastian bukti bervariasi dan umumnya rendah.
- Ng E, Lim LP. An Overview of Different Interdental Cleaning Aids and Their Effectiveness. Journal of Dentistry. 2019. Review ini membahas efektivitas floss, interdental brush, rubber picks, wooden aids, dan oral irrigators serta menekankan pentingnya pemilihan alat berdasarkan kondisi interdental pasien.
- Mohapatra S, Rajpurohit L, Mohandas R, Patil S. Comparing the effectiveness of water flosser and dental floss in plaque reduction among adults: A systematic review. Journal of Indian Society of Periodontology. 2023/2024. Review sistematis yang membandingkan efektivitas water flosser dan dental floss dalam pengendalian plak interdental.
- Hoseinpour H, et al. Does flossing before or after brushing influence the reduction in the plaque index? A systematic review and meta-analysis. International Journal of Dental Hygiene. 2021. Studi ini tidak menemukan perbedaan bermakna antara flossing sebelum atau sesudah menyikat gigi dalam pengurangan indeks plak.
- American Dental Association. Dental Floss/Interdental Cleaners. Updated August 2026. Panduan mengenai pentingnya pembersihan interdental, pilihan alat, frekuensi, serta penyesuaian metode berdasarkan kondisi gigi dan gusi.
