Gusi Sering Berdarah Saat Sikat Gigi, Ini Normal atau Tanda Bahaya?
Pernah melihat busa pasta gigi berubah merah muda atau bahkan merah ketika sedang menyikat gigi? Banyak orang menganggap gusi berdarah saat sikat gigi sebagai hal biasa, terutama jika darahnya hanya sedikit dan tidak disertai rasa sakit.
Padahal, gusi yang sehat umumnya tidak mudah berdarah hanya karena aktivitas menyikat gigi yang normal dan lembut. Perdarahan yang terjadi berulang kali dapat menjadi tanda adanya peradangan pada jaringan gusi.
Penyebab paling umum adalah penumpukan plak di sekitar garis gusi yang memicu gingivitis. Namun, pada sebagian orang, perdarahan juga dapat berkaitan dengan periodontitis, teknik menyikat gigi yang kurang tepat, penggunaan alat interdental yang tidak sesuai, atau kondisi tertentu yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Penelitian diagnostik yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Periodontology pada 2021 menemukan bahwa orang yang melaporkan gusi berdarah ketika menyikat gigi memiliki tanda perdarahan gusi yang lebih tinggi saat pemeriksaan klinis. Para peneliti menyimpulkan bahwa perdarahan saat menyikat gigi dapat menjadi tanda awal yang berguna untuk mendeteksi peradangan periodontal, meskipun tanda tersebut tidak cukup untuk menentukan diagnosis secara mandiri. (Deng et al., 2021).

Jawaban Singkat: Gusi Berdarah Saat Sikat Gigi Normal atau Tidak?
Gusi yang sering berdarah saat menyikat gigi sebaiknya tidak dianggap normal.
Jika terjadi sesekali karena gusi terkena makanan keras atau sikat terlalu kuat, penyebabnya mungkin sederhana. Namun, jika darah muncul berulang kali setiap menyikat gigi, terutama pada area yang sama, kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya peradangan gusi.
Beberapa penyebab yang mungkin meliputi:
- plak yang menumpuk di sekitar garis gusi;
- gingivitis;
- karang gigi;
- periodontitis;
- teknik menyikat gigi yang terlalu keras;
- pembersihan sela gigi yang kurang tepat;
- gusi yang mengalami iritasi atau trauma;
- perubahan hormonal tertentu;
- penggunaan obat tertentu;
- atau kondisi medis tertentu yang memengaruhi perdarahan.
Karena penyebabnya bisa berbeda, frekuensi dan pola perdarahan perlu diperhatikan.
1. Penyebab Paling Sering: Plak di Garis Gusi
Plak adalah lapisan tipis yang mengandung mikroorganisme dan dapat menempel pada permukaan gigi. Jika tidak dibersihkan secara efektif, plak dapat berkumpul terutama di area yang sulit dijangkau.
Salah satu lokasi yang sering terlewat adalah batas antara gigi dan gusi.
Ketika plak menumpuk di area tersebut, jaringan gusi dapat mengalami respons peradangan. Akibatnya, gusi dapat terlihat lebih merah, membengkak, terasa sensitif, dan lebih mudah berdarah.
Inilah mengapa seseorang dapat merasa, “Saya sudah sikat gigi setiap hari, kok masih berdarah?”
Masalahnya bukan selalu karena tidak menyikat gigi, tetapi bisa karena plak masih tertinggal di area tertentu.
2. Gingivitis: Tahap Awal yang Sering Diabaikan
Gingivitis adalah peradangan pada gusi. Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah gusi mudah berdarah saat menyikat gigi atau ketika membersihkan sela gigi.
Selain perdarahan, tanda lain dapat berupa:
- gusi tampak lebih merah;
- gusi membengkak;
- gusi terasa lebih sensitif;
- bau mulut;
- atau perubahan tekstur gusi.
Pada tahap ini, masalah terutama terjadi pada jaringan gusi. Gingivitis tidak sama dengan periodontitis dan tidak setiap kasus gingivitis berkembang menjadi periodontitis.
Namun, kondisi ini tetap perlu diperhatikan karena peradangan gusi yang tidak terkendali dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju penyakit periodontal yang lebih serius pada individu tertentu.
3. Karang Gigi Bisa Membuat Gusi Terus Berdarah
Plak yang tidak dibersihkan dapat mengalami mineralisasi dan menjadi karang gigi.
Karang gigi memiliki permukaan yang dapat mempertahankan plak sehingga pembersihan di rumah menjadi lebih sulit. Ketika endapan tersebut berada dekat garis gusi, jaringan di sekitarnya dapat terus mengalami iritasi dan peradangan.
Akibatnya, gusi mungkin tetap berdarah meskipun Anda sudah berusaha menyikat gigi secara rutin.
Hal yang penting dipahami adalah karang gigi yang sudah mengeras tidak dapat dihilangkan secara optimal hanya dengan sikat gigi biasa. Dokter gigi atau tenaga profesional perlu menilai apakah pembersihan profesional diperlukan.
4. Apakah Gusi Berdarah Berarti Periodontitis?
Belum tentu.
Gusi berdarah dapat terjadi pada gingivitis yang masih terbatas pada jaringan gusi. Namun, perdarahan juga dapat ditemukan pada pasien dengan periodontitis.
Periodontitis merupakan penyakit inflamasi yang melibatkan jaringan penyangga gigi dan dapat menyebabkan kehilangan perlekatan periodontal serta tulang alveolar.
Karena itu, dokter gigi tidak mendiagnosis periodontitis hanya berdasarkan apakah gusi berdarah atau tidak. Pemeriksaan periodontal yang lebih lengkap diperlukan untuk menilai kedalaman poket, kehilangan perlekatan, kondisi gigi, serta struktur pendukung lainnya.
Pedoman EFP untuk penanganan periodontitis menekankan pendekatan bertahap yang mencakup pengendalian biofilm, peradangan gingiva, faktor risiko, serta pembersihan permukaan gigi di atas dan di bawah garis gusi sesuai kondisi pasien. (Sanz et al., 2020).

5. Gusi Berdarah Justru Bisa Menjadi Tanda yang Jangan Diabaikan
Salah satu masalahnya adalah banyak orang menganggap perdarahan sebagai sesuatu yang biasa.
Misalnya, seseorang mungkin berkata, “Gusi saya memang gampang berdarah dari dulu.”
Padahal, jika perdarahan terjadi berulang kali, hal tersebut memberikan informasi tentang kondisi jaringan gusi.
Penelitian Deng dan kolega menunjukkan bahwa laporan seseorang mengenai gusi berdarah ketika menyikat gigi memiliki hubungan dengan tingkat perdarahan yang ditemukan saat pemeriksaan periodontal. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tanda ini memiliki keterbatasan dalam mendeteksi periodontitis secara spesifik. Artinya, perdarahan merupakan sinyal untuk memperhatikan kesehatan gusi, bukan alat diagnosis tunggal. (Deng et al., 2021).
6. Jangan Berhenti Menyikat Gigi Karena Gusi Berdarah
Ini adalah salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi.
Ketika gusi berdarah, seseorang mungkin berpikir bahwa menyikat gigi akan memperparah kondisi. Akhirnya, area yang berdarah justru dibersihkan lebih jarang.
Masalahnya, tindakan tersebut dapat membuat plak semakin menumpuk.
Jika penyebab perdarahan memang berkaitan dengan plak dan gingivitis, kebersihan mulut yang lebih baik justru merupakan bagian penting dari pengendalian peradangan.
Namun, ini bukan berarti Anda harus menyikat lebih keras. Sebaliknya, gunakan teknik yang lembut dan tepat.
Tujuannya bukan membuat gusi berdarah agar “kotorannya keluar”, tetapi membersihkan plak tanpa melukai jaringan.
7. Sikat Gigi Terlalu Keras Juga Bisa Menjadi Masalah
Tidak semua perdarahan gusi disebabkan oleh plak.
Teknik menyikat gigi yang terlalu agresif dapat menyebabkan trauma mekanis pada jaringan gusi. Tekanan yang berlebihan juga tidak otomatis membuat gigi lebih bersih.
Gunakan sikat gigi dengan bulu yang lembut dan lakukan gerakan yang terkontrol. Arahkan sikat ke area pertemuan antara gigi dan gusi tanpa memberikan tekanan berlebihan.
Yang paling penting adalah konsistensi dan teknik, bukan seberapa kuat Anda menggosok.
8. Membersihkan Sela Gigi Juga Penting
Gusi di antara dua gigi merupakan area yang tidak selalu dapat dibersihkan secara efektif dengan sikat gigi saja.
Jika plak terus tertinggal di sana, peradangan dapat berkembang pada area tersebut dan menyebabkan perdarahan ketika Anda menggunakan benang gigi atau alat interdental.
Jika baru mulai membersihkan sela gigi, sedikit perdarahan dapat muncul pada gusi yang sedang meradang. Namun, perdarahan yang terus berlangsung sebaiknya tidak dianggap sebagai alasan untuk berhenti membersihkan area tersebut.
Meta-analisis 2023 terhadap 16 uji klinis menunjukkan bahwa penambahan alat pembersih interdental tertentu pada penyikatan gigi dapat membantu mengurangi perdarahan interdental pada pasien dengan gingivitis. (Edlund et al., 2023).
Jenis alat yang paling sesuai dapat berbeda-beda tergantung ukuran ruang antar gigi dan kondisi gusi.
9. Apakah Gusi Berdarah Setelah Pakai Benang Gigi Itu Normal?
Jika Anda baru mulai menggunakan benang gigi setelah lama tidak membersihkan sela gigi, gusi yang sedang mengalami peradangan mungkin lebih mudah berdarah.
Namun, tujuan perawatan bukan mempertahankan perdarahan tersebut. Dengan kebersihan interdental yang baik dan konsisten, peradangan seharusnya dapat berkurang.
Jika perdarahan tetap terjadi selama berminggu-minggu, sangat banyak, atau hanya terjadi pada satu area tertentu, sebaiknya periksa ke dokter gigi.
10. Faktor Hormonal Juga Dapat Memengaruhi Gusi
Perubahan hormonal dapat memengaruhi respons jaringan gusi terhadap plak.
Karena itu, pada kondisi hormonal tertentu, gusi dapat menjadi lebih sensitif dan lebih mudah mengalami peradangan ketika terdapat plak.
Hal ini tidak berarti hormon secara langsung menyebabkan semua kasus gusi berdarah. Kebersihan mulut dan kondisi jaringan periodontal tetap berperan penting.
Jika perdarahan muncul bersamaan dengan perubahan tubuh tertentu atau terjadi secara tidak biasa, dokter gigi dapat membantu menentukan apakah faktor lokal di rongga mulut sudah cukup menjelaskan keluhan tersebut.
11. Obat Tertentu dan Kondisi Medis Juga Perlu Dipertimbangkan
Pada sebagian orang, gusi berdarah dapat dipengaruhi oleh obat atau kondisi medis yang memengaruhi proses pembekuan darah maupun kesehatan jaringan.
Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa semua perdarahan berasal dari sikat gigi atau plak.
Jika perdarahan gusi terasa berlebihan, muncul di banyak bagian tubuh, atau disertai mudah memar dan perdarahan lain yang tidak biasa, konsultasikan dengan dokter.
Dokter gigi juga perlu mengetahui obat yang sedang digunakan, terutama jika pasien mengonsumsi obat yang memengaruhi pembekuan darah.
12. Apa Bedanya Gusi Berdarah Ringan dan Tanda yang Perlu Diperiksa?
Perhatikan pola dan gejala yang menyertainya.
Lebih mungkin berkaitan dengan iritasi lokal:
- terjadi setelah menyikat terlalu keras;
- hanya terjadi sekali atau sesekali;
- terjadi setelah makanan keras melukai gusi;
- dan segera membaik setelah penyebab iritasi dihilangkan.
Lebih perlu diperhatikan:
- gusi berdarah hampir setiap kali menyikat gigi;
- gusi juga berdarah saat menggunakan benang gigi;
- gusi terlihat merah atau bengkak;
- bau mulut menetap;
- terdapat karang gigi;
- gusi terasa nyeri;
- gusi tampak semakin turun;
- gigi terasa goyang;
- atau terdapat perubahan posisi gigi.
Semakin banyak tanda yang muncul bersamaan, semakin penting untuk melakukan pemeriksaan.
13. Bagaimana Cara Mengurangi Gusi Berdarah?
Langkah pertama adalah memperbaiki kebersihan mulut tanpa memberikan trauma tambahan pada gusi.
Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan:
- sikat gigi dua kali sehari dengan teknik yang benar;
- gunakan sikat berbulu lembut;
- bersihkan area garis gusi dengan lembut;
- bersihkan sela-sela gigi setiap hari;
- bersihkan permukaan lidah;
- batasi kebiasaan merokok;
- jaga pola makan yang mendukung kesehatan secara keseluruhan;
- dan lakukan pemeriksaan gigi secara berkala.
Jika terdapat karang gigi, pembersihan profesional dapat diperlukan.
Pedoman periodontal modern tidak hanya berfokus pada tindakan di klinik. Pengendalian plak sehari-hari, perubahan perilaku, dan pengendalian faktor risiko juga merupakan bagian penting dari perawatan periodontal. (Sanz et al., 2020).
14. Apakah Sikat Gigi Elektrik Lebih Baik untuk Gusi Berdarah?
Sikat gigi elektrik bukan keharusan bagi semua orang.
Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis sikat elektrik tertentu dapat memberikan pengurangan plak dan perdarahan yang lebih besar dibandingkan sikat manual dalam kondisi penelitian tertentu.
Meta-analisis 2023 yang mencakup 21 uji klinis gingivitis menemukan bahwa sikat elektrik dengan gerakan oscillating-rotating menghasilkan penurunan jumlah lokasi perdarahan yang lebih besar dibandingkan beberapa teknologi sikat lainnya. (Zou et al., 2024).
Meski demikian, hasil penelitian tersebut bukan berarti semua orang harus mengganti sikat manual dengan sikat elektrik. Teknik menyikat yang tepat dan konsisten tetap lebih penting daripada sekadar jenis sikat.

15. Kapan Gusi Berdarah Harus Diperiksa Dokter Gigi?
Jadwalkan pemeriksaan jika gusi sering berdarah dan tidak membaik setelah Anda memperbaiki kebersihan mulut.
Pemeriksaan semakin penting jika perdarahan disertai:
- gusi bengkak atau merah;
- bau mulut yang menetap;
- gusi terasa sakit;
- karang gigi yang banyak;
- gusi turun atau gigi terlihat semakin panjang;
- gigi terasa goyang;
- perubahan posisi gigi;
- keluar nanah dari sekitar gusi;
- atau nyeri ketika menggigit.
Jika perdarahan sangat banyak atau sulit berhenti, terutama bila disertai perdarahan atau memar di bagian tubuh lain, segera cari evaluasi medis.
16. Apakah Gusi Berdarah Bisa Sembuh?
Dalam banyak kasus, peradangan gusi yang berkaitan dengan plak dapat membaik ketika penyebabnya dikendalikan dan kebersihan mulut diperbaiki.
Namun, hasilnya bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan kondisi.
Gingivitis akibat plak dapat ditangani dengan pengendalian plak yang baik dan perawatan profesional bila diperlukan. Sementara itu, periodontitis membutuhkan evaluasi dan perawatan periodontal yang lebih komprehensif.
Karena itu, semakin cepat penyebab ditemukan, semakin mudah dokter menentukan langkah perawatan yang sesuai.
Fakta Menarik: Gusi Berdarah Bisa Terlihat Sebelum Seseorang Merasa Sakit
Salah satu alasan penyakit gusi sering terlambat diketahui adalah karena gejalanya tidak selalu terasa sakit pada tahap awal.
Seseorang mungkin tidak merasakan nyeri sama sekali, tetapi sudah melihat darah ketika menyikat gigi.
Itulah sebabnya perdarahan gusi dapat menjadi tanda yang berguna untuk meningkatkan kewaspadaan. Penelitian Deng dan kolega menunjukkan bahwa laporan perdarahan saat menyikat gigi dapat membantu mengidentifikasi orang dengan tanda peradangan periodontal, walaupun sensitivitasnya untuk mendeteksi periodontitis secara spesifik masih terbatas. (Deng et al., 2021).
Dengan kata lain, tidak sakit bukan berarti gusi pasti sehat.
Kesimpulan
Gusi yang sering berdarah saat menyikat gigi sebaiknya tidak dianggap sebagai sesuatu yang normal dan harus dibiarkan. Perdarahan berulang paling sering berkaitan dengan peradangan gusi akibat plak, tetapi penyebab lain juga dapat berperan.
Gingivitis merupakan salah satu penyebab umum dan dapat ditandai dengan gusi merah, bengkak, serta mudah berdarah. Pada kondisi yang lebih lanjut, perdarahan juga dapat ditemukan pada penyakit periodontal seperti periodontitis.
Namun, jangan langsung menganggap setiap gusi berdarah sebagai periodontitis. Diagnosis membutuhkan pemeriksaan yang lebih lengkap.
Yang juga penting, jangan berhenti menyikat gigi hanya karena gusi berdarah. Gunakan teknik yang lembut, bersihkan sela gigi, dan perhatikan apakah perdarahan berkurang setelah kebersihan mulut diperbaiki.
Jika gusi terus berdarah, disertai bengkak, bau mulut, nyeri, gigi goyang, atau perubahan lain pada gusi dan gigi, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter gigi.
Untuk informasi dan perawatan kesehatan gigi lainnya, Anda dapat mengunjungi DokterGigiku.com.
Sumber Jurnal
- Deng K, Pelekos G, Jin L, Tonetti MS. Gingival bleeding on brushing as a sentinel sign of gingival inflammation: A diagnostic accuracy trial for the discrimination of periodontal health and disease. Journal of Clinical Periodontology. 2021;48(12):1537–1548.
- Sanz M, Herrera D, Kebschull M, et al. Treatment of stage I-III periodontitis—The EFP S3 level clinical practice guideline. Journal of Clinical Periodontology. 2020;47(Suppl 22):4–60.
- Edlund P, Bertl K, Pandis N, Stavropoulos A. Efficacy of power-driven interdental cleaning tools: A systematic review and meta-analysis. Clinical and Experimental Dental Research. 2023.
- Zou Y, Grender J, Adam R, Levin L. A Meta-analysis Comparing Toothbrush Technologies on Gingivitis and Plaque. International Dental Journal. 2024;74(1):146–156.
- Kebschull M, Chapple I. Evidence-based, personalised and minimally invasive treatment for periodontitis patients—the new EFP S3-level clinical treatment guidelines. British Dental Journal. 2020;229:443–449.
- Garcia-Pola MJ, Rodriguez-López S, Fernánz-Vigil A, Bagán L, Garcia-Martín JM. Oral hygiene instructions and professional control as part of the treatment of desquamative gingivitis: Systematic review. Medicina Oral, Patología Oral y Cirugía Bucal. 2019;24(2):e136–e144.
