Banyak orang tua mengira scaling gigi hanya diperlukan oleh orang dewasa. Padahal, anak juga dapat mengalami penumpukan plak, karang gigi, noda pada permukaan gigi, dan peradangan gusi. Karena itu, dalam kondisi tertentu, dokter gigi dapat merekomendasikan scaling atau pembersihan profesional untuk anak.
Namun, bukan berarti setiap anak harus menjalani scaling secara rutin pada jadwal yang sama. Dokter gigi akan melihat kondisi gigi dan gusi, jumlah plak serta karang gigi, kebiasaan kebersihan mulut, usia, kemampuan anak menjaga kebersihan gigi, dan risiko penyakit gigi sebelum menentukan kebutuhan perawatan.
American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) menjelaskan bahwa dental prophylaxis atau pembersihan profesional merupakan bagian dari perawatan preventif anak. Prosedur tersebut dapat membantu menghilangkan plak, noda ekstrinsik, dan kalkulus serta memberikan kesempatan bagi dokter gigi untuk mengajarkan cara menjaga kebersihan mulut kepada anak dan orang tua. :contentReference[oaicite:0]{index=0}
Lalu, apakah anak perlu scaling? Kapan prosedur tersebut diperlukan? Apakah scaling aman untuk gigi susu? Dan apakah scaling bisa membuat gigi anak menjadi tipis?
Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Scaling Gigi pada Anak?
Scaling gigi merupakan prosedur profesional untuk menghilangkan kalkulus atau karang gigi yang menempel pada permukaan gigi. Dokter gigi dapat menggunakan instrumen manual atau alat ultrasonik sesuai kondisi pasien.
Pada anak, istilah yang sering digunakan juga mencakup dental prophylaxis, yaitu tindakan pembersihan profesional yang dapat meliputi penghilangan plak, noda, dan kalkulus. AAPD menjelaskan bahwa teknik pembersihan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. :contentReference[oaicite:1]{index=1}
Artinya, tidak semua anak yang datang untuk pemeriksaan gigi otomatis membutuhkan scaling dengan alat ultrasonik.
Jika dokter tidak menemukan karang gigi, dokter mungkin cukup melakukan pembersihan dengan sikat atau metode profilaksis yang lebih sederhana. Sebaliknya, jika terdapat kalkulus yang menempel kuat, dokter dapat menggunakan instrumen yang sesuai.
Apakah Semua Anak Harus Scaling?
Tidak.
Anak tidak harus menjalani scaling hanya karena usianya sudah tertentu. Kebutuhan scaling bergantung pada kondisi gigi dan gusi masing-masing anak.
AAPD menyebutkan bahwa frekuensi profilaksis profesional perlu mempertimbangkan risiko karies dan penyakit periodontal setiap pasien. :contentReference[oaicite:2]{index=2}
Karena itu, dokter gigi dapat memberikan rekomendasi berbeda kepada dua anak yang memiliki usia sama.
Misalnya, seorang anak memiliki kebersihan gigi yang baik dan hampir tidak memiliki kalkulus. Anak tersebut mungkin tidak membutuhkan scaling dengan alat khusus.
Sementara itu, anak lain mungkin memiliki banyak kalkulus di sekitar garis gusi. Dokter dapat merekomendasikan pembersihan profesional untuk menghilangkan deposit tersebut.
Kapan Anak Membutuhkan Scaling?

Beberapa kondisi dapat membuat dokter gigi mempertimbangkan scaling atau pembersihan profesional.
1. Terdapat Karang Gigi
Karang gigi terbentuk ketika plak mengalami mineralisasi dan mengeras. Berbeda dengan plak lunak, karang gigi tidak dapat dibersihkan secara optimal hanya dengan menyikat gigi di rumah.
Jika dokter menemukan kalkulus pada gigi anak, dokter dapat melakukan pembersihan menggunakan instrumen yang sesuai.
2. Gusi Sering Berdarah
Gusi yang mudah berdarah dapat menjadi tanda adanya peradangan. Salah satu penyebab yang umum adalah penumpukan plak di sekitar garis gusi.
Jika terdapat kalkulus dan peradangan, dokter perlu membersihkan deposit tersebut sekaligus mengevaluasi kebiasaan kebersihan mulut anak.
Namun, gusi berdarah tidak selalu berarti anak membutuhkan scaling. Dokter tetap perlu mencari penyebabnya terlebih dahulu.
3. Terdapat Noda Ekstrinsik
Anak juga dapat mengalami noda pada permukaan gigi akibat makanan atau minuman tertentu. Pembersihan profesional dapat membantu menghilangkan sebagian noda ekstrinsik.
Namun, dokter perlu membedakan noda permukaan dengan perubahan warna yang berasal dari struktur gigi. Tidak semua perubahan warna dapat hilang melalui scaling atau polishing.
4. Plak Sulit Dikendalikan
Beberapa anak mengalami kesulitan membersihkan area tertentu, terutama gigi belakang dan area di sekitar garis gusi.
Jika plak terus menumpuk, dokter gigi dapat melakukan pembersihan profesional dan sekaligus mengajarkan teknik menyikat gigi yang lebih efektif.
AAPD menekankan bahwa pembersihan profesional sebaiknya berjalan bersama edukasi kebersihan mulut. Pembersihan saja memiliki manfaat yang terbatas jika anak dan orang tua tidak memperbaiki kontrol plak di rumah. :contentReference[oaicite:3]{index=3}
Apakah Scaling Aman untuk Anak?
Pada kondisi yang tepat, scaling dapat menjadi bagian dari perawatan gigi anak yang aman dan bermanfaat.
Namun, dokter gigi tidak akan menggunakan teknik yang sama untuk semua anak. Dokter akan menyesuaikan instrumen dan pendekatan berdasarkan usia, kondisi mulut, jumlah kalkulus, serta kemampuan anak bekerja sama selama perawatan.
AAPD menjelaskan bahwa pada anak yang masih sangat muda atau belum kooperatif, dokter dapat memilih metode profilaksis yang lebih sederhana jika tidak terdapat kalkulus atau noda yang membutuhkan instrumen khusus. :contentReference[oaicite:4]{index=4}
Jadi, keamanan scaling bukan hanya bergantung pada alat yang digunakan. Dokter juga perlu memilih teknik yang sesuai dengan kondisi anak.
Apakah Scaling Bisa Merusak atau Menipiskan Gigi Anak?
Banyak orang tua khawatir scaling dapat membuat gigi anak menjadi tipis.
Pada dasarnya, tujuan scaling adalah menghilangkan deposit yang menempel pada gigi, bukan mengikis struktur gigi yang sehat.
Dokter gigi akan memilih teknik dan instrumen sesuai kebutuhan. Karena itu, orang tua tidak perlu menghindari pemeriksaan hanya karena khawatir scaling akan mengikis gigi.
Justru, membiarkan karang gigi menumpuk dapat membuat kondisi gusi semakin sulit dikontrol.
Perlu dipahami juga bahwa sensasi kasar atau sedikit sensitif setelah pembersihan tidak selalu berarti gigi mengalami kerusakan. Setelah deposit yang sebelumnya menutupi permukaan gigi hilang, anak dapat merasakan perubahan pada permukaan gigi.
Apakah Gigi Susu Anak Bisa Mengalami Karang Gigi?
Ya.
Gigi susu juga dapat mengalami penumpukan plak dan kalkulus. Karena itu, gigi susu tetap membutuhkan kebersihan yang baik sejak mulai tumbuh.
Namun, jumlah kalkulus pada setiap anak berbeda. Faktor seperti kebiasaan menyikat gigi, posisi gigi, komposisi saliva, pola makan, dan kemampuan anak membersihkan gigi dapat memengaruhi penumpukan deposit.
Karena itu, orang tua tidak boleh menganggap gigi susu tidak perlu dirawat hanya karena nantinya akan tanggal.
Gigi susu membantu anak mengunyah, berbicara, dan mempertahankan ruang untuk gigi permanen yang akan tumbuh kemudian.
Apakah Scaling Bisa Mencegah Gigi Berlubang?
Scaling dapat membantu mengendalikan plak dan kalkulus, tetapi scaling bukan satu-satunya cara untuk mencegah gigi berlubang.
Karies terjadi melalui interaksi berbagai faktor, termasuk bakteri, pola konsumsi gula, kondisi gigi, saliva, fluoride, dan waktu.
Karena itu, anak tetap membutuhkan kebiasaan menyikat gigi dengan pasta gigi berfluoride, pengaturan konsumsi gula, dan pemeriksaan gigi secara berkala.
AAPD menyatakan bahwa menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride merupakan salah satu cara paling efektif untuk mengurangi prevalensi karies pada anak. :contentReference[oaicite:5]{index=5}
Dengan demikian, scaling sebaiknya dipandang sebagai salah satu bagian dari perawatan preventif, bukan pengganti kebersihan gigi sehari-hari.
Scaling Bukan Pengganti Sikat Gigi
Ini merupakan hal penting yang perlu dipahami orang tua.
Scaling dilakukan oleh tenaga profesional. Sementara itu, anak tetap harus membersihkan giginya setiap hari di rumah.
Jika anak menjalani scaling tetapi kembali memiliki kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik, plak akan kembali terbentuk.
Penelitian menunjukkan bahwa kontrol plak mekanis tetap menjadi dasar pencegahan penyakit gusi. Menyikat gigi dan pembersihan interdental menjadi bagian utama dari kebersihan mulut yang efektif. :contentReference[oaicite:6]{index=6}
Karena itu, dokter gigi biasanya menggunakan kunjungan pembersihan profesional sebagai kesempatan untuk mengevaluasi sekaligus memperbaiki kebiasaan kebersihan mulut anak.
Berapa Kali Anak Harus Scaling dalam Setahun?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua anak.
Beberapa anak mungkin tidak membutuhkan scaling secara rutin karena tidak memiliki kalkulus yang signifikan. Anak lain mungkin membutuhkan pembersihan profesional lebih sering karena memiliki risiko karies atau penyakit gusi yang lebih tinggi.
AAPD merekomendasikan agar frekuensi layanan profilaksis profesional ditentukan berdasarkan faktor risiko karies dan periodontal. :contentReference[oaicite:7]{index=7}
Jadi, orang tua sebaiknya tidak menetapkan jadwal scaling hanya berdasarkan aturan seperti “setiap enam bulan” tanpa melihat kondisi anak.
Pemeriksaan rutin membantu dokter menentukan apakah anak membutuhkan scaling, pembersihan sederhana, fluoride, sealant, atau cukup mendapatkan edukasi kebersihan gigi.
Bagaimana Proses Scaling pada Anak?

Prosesnya dapat berbeda berdasarkan kondisi anak, tetapi secara umum dokter akan melakukan beberapa tahap.
Pertama, dokter memeriksa kondisi gigi dan gusi.
Dokter akan melihat adanya plak, kalkulus, noda, gigi berlubang, kondisi gusi, dan masalah lain yang mungkin membutuhkan perhatian.
Kedua, dokter menentukan jenis pembersihan.
Jika hanya terdapat plak atau noda ringan, dokter mungkin memilih metode profilaksis sederhana.
Jika terdapat kalkulus, dokter dapat menggunakan instrumen manual atau ultrasonik.
Ketiga, dokter membersihkan deposit.
Dokter menghilangkan plak, noda, dan kalkulus sesuai kebutuhan.
Keempat, dokter dapat melakukan polishing.
Polishing dapat membantu membersihkan noda ekstrinsik tertentu dan menghaluskan permukaan setelah scaling.
Kelima, dokter memberikan edukasi.
Dokter dapat menunjukkan area yang sering terlewat dan mengajarkan teknik menyikat gigi kepada anak serta orang tua.
AAPD menempatkan edukasi kebersihan mulut sebagai bagian penting dari profilaksis profesional pada anak. :contentReference[oaicite:8]{index=8}
Apakah Scaling Anak Sakit?
Scaling tidak selalu menimbulkan rasa sakit.
Jika deposit yang dibersihkan ringan dan gusi dalam kondisi sehat, anak biasanya dapat menjalani pembersihan dengan nyaman.
Namun, anak mungkin merasakan sedikit tidak nyaman jika terdapat kalkulus yang cukup banyak, gusi mengalami peradangan, atau area tertentu sangat sensitif.
Dokter gigi dapat menyesuaikan teknik dan memberikan pendekatan perilaku yang sesuai agar anak merasa lebih nyaman.
AAPD juga menekankan pentingnya pendekatan individual dalam membimbing perilaku anak selama prosedur gigi. Dokter perlu mempertimbangkan usia, temperamen, kebutuhan perawatan, pengalaman sebelumnya, dan kondisi anak. :contentReference[oaicite:9]{index=9}
Bagaimana Jika Anak Takut Scaling?
Ketakutan terhadap dokter gigi cukup umum pada anak.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menggunakan kata-kata yang membuat prosedur terdengar menakutkan.
Misalnya, orang tua tidak perlu mengatakan, “Nanti giginya digerinda” jika dokter hanya akan melakukan pembersihan.
Sebaliknya, gunakan penjelasan sederhana seperti “dokter akan membersihkan gigi supaya lebih bersih”.
Orang tua juga dapat menghindari membawa anak ke dokter gigi hanya ketika anak sedang sakit. Kunjungan preventif sejak dini dapat membantu anak terbiasa dengan lingkungan klinik.
AAPD menganjurkan pembentukan dental home sejak usia dini agar anak memiliki hubungan berkelanjutan dengan tenaga kesehatan gigi dan menerima perawatan berdasarkan kebutuhan individualnya. :contentReference[oaicite:10]{index=10}
Apakah Anak dengan Behel Membutuhkan Scaling?
Anak yang menggunakan alat ortodonti perlu memberikan perhatian lebih terhadap kebersihan mulut.
Bracket dan kawat dapat menciptakan area yang lebih sulit dibersihkan. Akibatnya, plak dapat lebih mudah tertahan di sekitar alat ortodonti.
Jika plak menumpuk, risiko gingivitis dapat meningkat.
Karena itu, dokter gigi atau ortodontis dapat merekomendasikan pembersihan profesional sesuai kondisi anak.
Namun, anak tetap perlu melakukan pembersihan gigi setiap hari di rumah. Scaling tidak dapat menggantikan sikat gigi dan pembersihan di sela-sela gigi.
Perawatan Gigi Anak yang Lebih Penting daripada Scaling

Jika tujuan orang tua adalah menjaga gigi anak tetap sehat, ada beberapa kebiasaan yang jauh lebih penting daripada sekadar melakukan scaling.
- Menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride.
- Membantu anak menyikat gigi sampai anak mampu membersihkan gigi dengan baik.
- Mengurangi frekuensi konsumsi makanan dan minuman manis.
- Membiasakan anak minum air putih.
- Menghindari kebiasaan tidur dengan botol berisi minuman manis.
- Memperhatikan kebersihan gigi setelah makan.
- Membawa anak menjalani pemeriksaan gigi secara berkala.
- Mengikuti rekomendasi dokter mengenai fluoride dan tindakan pencegahan lainnya.
Penelitian pada anak menunjukkan bahwa intervensi kebersihan mulut yang terarah dapat membantu mengurangi plak dan memperbaiki kondisi gingiva. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis pada anak di bawah tujuh tahun menemukan bahwa beberapa intervensi, termasuk program edukasi dan pendekatan menyikat gigi, dapat memberikan manfaat terhadap plak dan gingivitis. :contentReference[oaicite:11]{index=11}
Apakah Scaling Lebih Penting daripada Menyikat Gigi?
Tidak.
Keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Menyikat gigi membantu anak mengendalikan plak setiap hari. Sementara itu, scaling atau profilaksis profesional membantu dokter menghilangkan deposit yang tidak dapat dibersihkan secara optimal oleh anak di rumah.
Jadi, keduanya saling melengkapi.
Jika anak memiliki kebiasaan menyikat gigi yang buruk, scaling berulang tidak akan menyelesaikan akar masalah. Dokter perlu membantu anak dan orang tua memperbaiki kontrol plak sehari-hari.
Kapan Orang Tua Harus Membawa Anak ke Dokter Gigi?
Orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai anak mengeluhkan sakit gigi.
Buatlah janji pemeriksaan jika anak mengalami:
- Karang gigi yang terlihat.
- Gusi merah atau mudah berdarah.
- Bau mulut yang menetap.
- Noda pada permukaan gigi.
- Gigi berlubang.
- Sakit ketika makan atau minum.
- Gigi sensitif.
- Kesulitan membersihkan gigi.
- Penumpukan plak yang terus berulang.
- Masalah kebersihan gigi meskipun orang tua sudah membantu menyikat gigi.
Jika terdapat pembengkakan pada wajah atau gusi, demam, keluar nanah, kesulitan menelan, atau kesulitan bernapas, orang tua perlu mencari pertolongan medis segera.
Kesimpulan
Anak bisa membutuhkan scaling, tetapi tidak semua anak harus menjalani scaling secara rutin.
Dokter gigi menentukan kebutuhan scaling berdasarkan kondisi gigi dan gusi, jumlah plak dan kalkulus, kebiasaan kebersihan mulut, serta risiko karies dan penyakit periodontal.
Pada anak yang memiliki karang gigi, noda ekstrinsik, plak yang sulit dikendalikan, atau tanda peradangan gusi, pembersihan profesional dapat menjadi bagian dari perawatan.
Namun, scaling bukan pengganti sikat gigi. Anak tetap perlu menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride dan mendapatkan pemeriksaan gigi secara berkala.
Karena itu, jangan menunggu sampai anak sakit untuk memeriksakan giginya. Pemeriksaan sejak dini membantu dokter menemukan masalah lebih awal dan menentukan apakah anak membutuhkan scaling atau cukup mendapatkan perawatan preventif lainnya.
Untuk mendapatkan informasi kesehatan gigi lainnya, Anda juga dapat mengunjungi DokterGigiku.com.
Sumber dan Referensi Ilmiah
- American Academy of Pediatric Dentistry. Policy on the Role of Dental Prophylaxis in Pediatric Dentistry. The Reference Manual of Pediatric Dentistry, revised 2024. :contentReference[oaicite:12]{index=12}
- American Academy of Pediatric Dentistry. Periodicity of Examination, Preventive Dental Services, Anticipatory Guidance/Counseling, and Oral Treatment for Infants, Children, and Adolescents. Revised 2022. :contentReference[oaicite:13]{index=13}
- American Academy of Pediatric Dentistry. Periodontal Conditions in Pediatric Dental Patients. Revised 2024. :contentReference[oaicite:14]{index=14}
- American Academy of Pediatric Dentistry. Policy on Use of Fluoride. Revised 2023. :contentReference[oaicite:15]{index=15}
- Madawana AM, Awang Nawi MA, Hassan A. Effectiveness of Different Oral Health Interventions on Plaque and Gingivitis Incidence in Children Under Seven Years of Age: A Systematic Review and Meta-Analysis. Cureus. 2024;16(9):e67395. :contentReference[oaicite:16]{index=16}
- Rajwani AR, Hawes SND, To A, Quaranta A, Rincon Aguilar JC. Effectiveness of Manual Toothbrushing Techniques on Plaque and Gingivitis: A Systematic Review. Oral Health & Preventive Dentistry. 2020;18(4):843–854. :contentReference[oaicite:17]{index=17}
- Sälzer S, Graetz C, Dörfer CE, Slot DE, van der Weijden FA. Contemporary practices for mechanical oral hygiene to prevent periodontal disease. Periodontology 2000. 2020;84(1):35–44. :contentReference[oaicite:18]{index=18}
- American Academy of Pediatric Dentistry. Behavior Guidance for the Pediatric Dental Patient. Revised 2024. :contentReference[oaicite:19]{index=19}
Catatan: Artikel ini bertujuan memberikan informasi edukatif mengenai perawatan gigi anak. Kebutuhan scaling atau pembersihan profesional harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan langsung oleh dokter gigi.
