Benturan pada wajah dapat menyebabkan berbagai jenis cedera pada gigi. Gigi bisa mengalami retak, patah sebagian, bergeser dari posisi normal, atau bahkan copot seluruhnya dari soket gigi.
Kondisi tersebut membutuhkan perhatian cepat. Terlebih lagi, gigi permanen yang copot memiliki peluang untuk dipertahankan jika seseorang memberikan pertolongan pertama dengan tepat dan segera mencari perawatan dokter gigi. Pedoman International Association of Dental Traumatology (IADT) menempatkan avulsi atau gigi permanen yang copot sebagai salah satu cedera gigi paling serius dan menekankan pentingnya penanganan segera.
Namun, jangan panik. Ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan setelah kecelakaan, jatuh, olahraga, atau benturan pada wajah.
Jika gigi permanen benar-benar copot, waktu sangat penting. Semakin cepat Anda memberikan pertolongan yang tepat dan membawa pasien ke dokter gigi, semakin baik peluang dokter untuk mempertahankan gigi tersebut.
Artikel ini membahas apa yang harus dilakukan saat gigi patah atau copot karena benturan, termasuk cara menangani gigi yang terlepas, cara menyimpan gigi, perbedaan gigi susu dan gigi permanen, serta kondisi yang membutuhkan pertolongan segera.
Apa yang Terjadi pada Gigi Setelah Benturan?

Trauma pada gigi tidak selalu menyebabkan gigi langsung copot.
Bahkan, satu benturan dapat menyebabkan beberapa jenis cedera yang berbeda. IADT mengelompokkan trauma gigi permanen ke dalam beberapa kondisi, termasuk fraktur mahkota, fraktur akar, luksasi, dan avulsi.
Berikut beberapa kondisi yang mungkin terjadi.
1. Gigi Retak
Retakan dapat muncul pada permukaan gigi setelah benturan.
Retakan kecil terkadang sulit terlihat. Namun, gigi dapat terasa sakit ketika pasien menggigit atau mengonsumsi makanan dan minuman tertentu.
2. Gigi Patah Sebagian
Benturan keras dapat mematahkan sebagian mahkota gigi.
Jika patahan hanya mengenai lapisan luar gigi, dokter mungkin dapat memperbaikinya dengan restorasi. Sebaliknya, patahan yang mencapai pulpa membutuhkan penanganan lebih lanjut.
3. Gigi Bergeser
Benturan juga dapat membuat gigi bergeser dari posisi normalnya.
Gigi mungkin terlihat lebih maju, lebih mundur, miring, atau terasa goyang. Kondisi seperti ini termasuk cedera luksasi dan membutuhkan pemeriksaan dokter gigi.
4. Gigi Copot Seluruhnya
Kondisi ini disebut avulsi gigi.
Pada avulsi, gigi keluar seluruhnya dari soketnya. Kondisi tersebut merupakan keadaan darurat gigi, terutama jika gigi yang copot merupakan gigi permanen.
Gigi Permanen Copot, Apa yang Harus Dilakukan?
Jika gigi permanen copot setelah benturan, jangan membuang gigi tersebut.
Gigi mungkin masih dapat dokter tanam kembali ke soket melalui prosedur replantasi. IADT merekomendasikan replantasi segera untuk gigi permanen yang mengalami avulsi apabila kondisi memungkinkan.
Ikuti langkah berikut.
1. Tetap Tenang
Pertama, tenangkan pasien.
Jika anak mengalami kecelakaan, orang tua sebaiknya membantu anak tetap tenang sambil mencari gigi yang copot.
Selain itu, periksa kondisi umum pasien. Pastikan tidak ada cedera kepala serius, perdarahan hebat, atau gangguan pernapasan.
2. Cari Gigi yang Copot
Segera cari gigi yang terlepas.
Setelah menemukannya, pegang bagian mahkota gigi, yaitu bagian gigi yang biasanya terlihat di dalam mulut.
Jangan memegang bagian akar gigi.
Permukaan akar memiliki jaringan yang berperan penting dalam keberhasilan replantasi. Karena itu, Anda perlu menghindari sentuhan pada akar sebisa mungkin.
3. Jangan Menggosok Akar Gigi
Jika gigi terlihat kotor, jangan menggosok akar dengan sikat atau kain.
Selain itu, jangan menggunakan sabun, alkohol, atau cairan pembersih rumah tangga.
Jika perlu membersihkan kotoran, bilas gigi secara lembut menggunakan cairan yang sesuai seperti saline atau susu. IADT juga menyebut susu, saline, atau saliva pasien sebagai media untuk membilas gigi yang kotor secara lembut.
4. Jika Memungkinkan, Pasang Kembali Gigi
Untuk gigi permanen, IADT merekomendasikan upaya replantasi segera di lokasi kejadian jika kondisi memungkinkan.
Pegang mahkota gigi, kemudian arahkan kembali gigi ke soket secara perlahan.
Namun, jangan memaksakan gigi masuk jika Anda tidak yakin dengan posisinya atau pasien mengalami cedera lain yang lebih serius.
Jika pasien tidak dapat melakukan replantasi, segera gunakan media penyimpanan yang sesuai dan cari pertolongan dokter gigi.
Bagaimana Jika Gigi Tidak Bisa Dipasang Kembali?
Tidak semua orang mampu memasukkan kembali gigi dengan benar.
Jangan khawatir. Anda masih dapat melakukan langkah penting berikutnya, yaitu menjaga gigi tetap lembap.
IADT menekankan bahwa kondisi jaringan periodontal pada akar dipengaruhi oleh waktu gigi berada di luar mulut dan media penyimpanannya. Karena itu, jangan membiarkan gigi mengering.
Pilihan media penyimpanan
Jika Anda tidak dapat segera melakukan replantasi, simpan gigi dalam media yang sesuai seperti:
- Susu.
- Saline.
- Media penyimpanan khusus gigi jika tersedia.
IADT juga memberikan panduan mengenai penggunaan saliva dalam kondisi tertentu. Namun, susu atau saline merupakan pilihan praktis yang sering digunakan ketika media khusus tidak tersedia.
Jangan membungkus gigi dengan tisu kering atau membiarkannya begitu saja di dalam wadah tanpa cairan.
Setelah itu, segera cari dokter gigi.
Mengapa Waktu Sangat Penting?
Gigi yang copot masih memiliki jaringan pada permukaan akar. Jaringan tersebut membutuhkan kondisi yang tepat agar tetap memiliki peluang untuk bertahan.
Semakin lama gigi berada di luar mulut dalam kondisi kering, semakin besar risiko kerusakan jaringan tersebut.
IADT menyatakan bahwa prognosis gigi avulsi berkaitan erat dengan tindakan di lokasi kecelakaan, waktu gigi berada di luar mulut, dan media penyimpanan gigi.
Karena itu, jangan menunggu sampai keesokan harinya untuk mencari pertolongan.
Jika gigi permanen copot, segera hubungi dokter gigi atau fasilitas kesehatan yang dapat menangani trauma gigi.
Bagaimana Jika yang Copot adalah Gigi Susu?

Ini bagian yang sangat penting.
Jangan mencoba memasukkan kembali gigi susu yang copot ke dalam gusi anak.
Penanganan gigi susu berbeda dengan gigi permanen. IADT memiliki pedoman khusus untuk trauma pada gigi sulung karena dokter perlu mempertimbangkan perkembangan gigi permanen yang berada di bawahnya.
Jika gigi susu anak copot karena benturan:
- Tenangkan anak.
- Cari gigi yang copot.
- Jangan memasukkan kembali gigi ke soket.
- Periksa apakah ada perdarahan.
- Bersihkan area mulut dengan lembut.
- Segera hubungi dokter gigi anak atau dokter gigi.
Dokter akan menilai kondisi gusi, jaringan sekitar gigi, dan kemungkinan cedera lain.
Gigi Patah Karena Benturan, Harus Disimpan?
Jika sebagian gigi patah dan Anda menemukan fragmennya, jangan langsung membuangnya.
Fragmen gigi terkadang dapat membantu dokter menentukan jenis kerusakan atau bahkan menggunakannya kembali dalam prosedur restorasi tertentu.
Simpan fragmen dalam wadah bersih dan bawa saat pemeriksaan.
Namun, jangan mencoba merekatkan potongan gigi sendiri menggunakan lem rumah tangga.
Lem bukan bahan untuk perawatan gigi dan dapat menyebabkan masalah pada jaringan mulut.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Gigi Patah dan Berdarah?
Benturan dapat menyebabkan luka pada gusi, bibir, atau jaringan di dalam mulut.
Jika terjadi perdarahan ringan, tekan area tersebut secara lembut menggunakan kasa bersih.
Selain itu, kompres dingin dari luar pipi dapat membantu mengurangi pembengkakan dan rasa tidak nyaman.
Namun, jangan hanya fokus pada gigi yang patah. Periksa juga bibir, gusi, rahang, dan kondisi umum pasien.
Jika perdarahan terus berlangsung atau pasien menunjukkan tanda cedera serius, segera cari pertolongan medis.
Jangan Langsung Makan Setelah Benturan
Setelah mengalami trauma pada gigi, sebaiknya jangan langsung menggigit makanan keras.
Gigi yang terlihat normal dari luar belum tentu bebas dari cedera. Benturan dapat memengaruhi jaringan penyangga atau pulpa meskipun tidak ada patahan yang terlihat.
Karena itu, pilih makanan lunak jika dokter belum memeriksa kondisi gigi.
Selain itu, hindari menggigit menggunakan gigi yang mengalami benturan.
Apakah Gigi yang Goyang Setelah Benturan Bisa Kembali Normal?
Bisa, tetapi dokter gigi harus memeriksa penyebab dan tingkat kegoyangannya.
Benturan dapat menyebabkan jaringan yang menopang gigi mengalami cedera. Kondisi tersebut dapat membuat gigi terasa lebih longgar dari biasanya.
Dokter gigi akan menilai posisi gigi dan jaringan di sekitarnya. Pada kondisi tertentu, dokter dapat menggunakan splint untuk membantu menstabilkan gigi selama masa penyembuhan.
Pedoman IADT membahas penggunaan splint dan tindak lanjut pada berbagai jenis cedera luksasi dan fraktur gigi permanen.
Oleh karena itu, jangan mencoba mengikat gigi sendiri menggunakan benang, kawat, atau benda lain.
Kapan Harus Segera ke Dokter Gigi?

Anda sebaiknya mencari pemeriksaan segera setelah benturan menyebabkan:
- Gigi copot.
- Gigi patah.
- Gigi bergeser.
- Gigi menjadi sangat goyang.
- Nyeri gigi yang berat.
- Perdarahan gusi.
- Pembengkakan.
- Kesulitan menggigit.
- Perubahan posisi gigi.
- Gigi terasa sangat sensitif.
- Luka pada bibir atau gusi.
Trauma gigi membutuhkan diagnosis dan tindak lanjut yang tepat. IADT menekankan bahwa diagnosis, perencanaan perawatan, dan follow-up memiliki peran penting dalam mencapai hasil yang baik setelah cedera gigi.
Kapan Harus ke IGD?
Trauma pada wajah terkadang tidak hanya melukai gigi.
Segera cari pertolongan medis jika benturan menyebabkan:
- Kehilangan kesadaran.
- Muntah berulang.
- Kebingungan.
- Sakit kepala berat setelah benturan.
- Perdarahan yang sulit berhenti.
- Kesulitan bernapas.
- Kesulitan menelan.
- Pembengkakan wajah yang berat.
- Dugaan patah tulang rahang.
- Cedera wajah yang luas.
Dalam kondisi seperti itu, jangan hanya mencari dokter gigi. Prioritaskan keselamatan pasien dan penanganan cedera yang mengancam jiwa.
Apa yang Akan Dilakukan Dokter Gigi?
Setelah pasien datang ke dokter gigi, dokter akan memeriksa kondisi gigi dan jaringan di sekitarnya.
Pemeriksaan dapat meliputi beberapa langkah.
Pemeriksaan visual
Dokter melihat bentuk gigi, posisi gigi, patahan, luka pada gusi, dan kondisi jaringan di sekitarnya.
Pemeriksaan mobilitas
Dokter memeriksa apakah gigi mengalami kegoyangan dan seberapa besar pergerakannya.
Pemeriksaan gigitan
Dokter dapat memeriksa apakah benturan mengubah posisi gigi atau hubungan gigitan.
Pemeriksaan radiografi
Dokter mungkin membutuhkan foto rontgen untuk melihat akar gigi dan jaringan tulang di sekitarnya.
Perawatan gigi
Tindakan selanjutnya bergantung pada jenis cedera.
Dokter mungkin melakukan restorasi pada gigi patah, reposisi gigi yang bergeser, pemasangan splint, perawatan pulpa atau saluran akar, hingga tindakan lain sesuai kondisi pasien.
Pada gigi permanen yang copot, dokter juga akan mempertimbangkan waktu gigi berada di luar mulut, kondisi akar, media penyimpanan, dan kondisi jaringan periodontal sebelum menentukan langkah berikutnya.
Apakah Gigi Patah Selalu Harus Dicabut?
Tidak.
Gigi patah tidak otomatis berarti dokter harus mencabutnya.
Dokter akan melihat beberapa faktor, seperti:
- Seberapa luas patahan.
- Apakah akar mengalami kerusakan.
- Apakah pulpa terkena.
- Kondisi jaringan penyangga.
- Posisi gigi.
- Kondisi tulang di sekitar gigi.
- Kemungkinan mempertahankan gigi.
IADT menekankan bahwa dokter perlu melakukan diagnosis dan perencanaan perawatan secara tepat pada trauma gigi permanen.
Karena itu, jangan langsung menganggap bahwa gigi patah pasti harus dicabut.
Apakah Gigi yang Copot Bisa Dipasang Kembali?
Pada gigi permanen, dokter dapat mempertimbangkan replantasi.
Replantasi berarti dokter memasukkan kembali gigi yang copot ke dalam soketnya.
Namun, keberhasilannya tidak dapat dijamin. Dokter perlu mempertimbangkan kondisi gigi, waktu di luar mulut, media penyimpanan, kondisi jaringan akar, dan faktor klinis lainnya.
IADT menyebut replantasi sebagai pilihan utama untuk gigi permanen yang mengalami avulsi, dengan penanganan segera sebagai langkah penting untuk meningkatkan peluang hasil yang baik.
Karena itu, jangan membuang gigi permanen yang copot sebelum dokter memeriksanya.
Bagaimana Mencegah Trauma Gigi?
Tidak semua kecelakaan dapat kita cegah. Namun, beberapa langkah dapat mengurangi risiko cedera gigi.
Gunakan mouthguard saat olahraga
Mouthguard dapat membantu melindungi gigi dari benturan saat melakukan olahraga tertentu.
Terutama pada olahraga kontak atau aktivitas yang memiliki risiko jatuh dan benturan pada wajah.
Jangan membuka benda dengan gigi
Hindari menggunakan gigi untuk membuka botol, kemasan, atau benda keras.
Kebiasaan tersebut dapat menyebabkan gigi retak atau patah.
Gunakan perlengkapan keselamatan
Saat mengendarai kendaraan atau melakukan aktivitas dengan risiko benturan, gunakan perlengkapan keselamatan yang sesuai.
Periksa kesehatan gigi secara rutin
Gigi yang mengalami karies atau kerusakan struktural dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah ketika terkena tekanan tertentu.
Pemeriksaan rutin membantu dokter menemukan masalah sebelum berkembang lebih jauh.
FAQ Gigi Patah atau Copot karena Benturan
Apakah gigi copot bisa dipasang kembali?
Untuk gigi permanen, dokter dapat melakukan replantasi dalam kondisi tertentu. Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan yang tepat, semakin baik peluang mempertahankan gigi.
Apakah gigi yang copot boleh dicuci?
Jika gigi kotor, Anda dapat membilasnya dengan lembut. Namun, jangan menggosok akar gigi. IADT merekomendasikan penanganan yang menjaga jaringan pada permukaan akar.
Gigi copot sebaiknya disimpan di mana?
Jika Anda tidak dapat segera memasukkan kembali gigi permanen ke soket, simpan dalam media yang sesuai seperti susu atau saline dan segera cari dokter gigi.
Apakah gigi susu yang copot boleh dipasang kembali?
Tidak. Jangan memasukkan kembali gigi susu yang copot ke soket anak. Penanganan gigi susu berbeda karena dokter perlu mempertimbangkan perkembangan gigi permanen di bawahnya.
Apakah gigi patah harus dicabut?
Tidak selalu. Dokter akan menentukan perawatan berdasarkan lokasi dan tingkat kerusakan.
Apakah gigi yang goyang setelah benturan akan kembali kuat?
Pada beberapa cedera, gigi dapat kembali stabil setelah jaringan di sekitarnya pulih. Namun, dokter harus memeriksa kondisi gigi terlebih dahulu dan menentukan apakah pasien membutuhkan stabilisasi atau perawatan lain.
Berapa lama setelah gigi copot harus ke dokter?
Secepat mungkin. Jangan menunggu beberapa hari, terutama jika gigi permanen mengalami avulsi. Waktu dan kondisi gigi selama berada di luar mulut memengaruhi prognosis.
Kesimpulan
Gigi patah atau copot karena benturan membutuhkan penanganan cepat.
Jika gigi permanen copot seluruhnya, segera cari gigi tersebut dan pegang bagian mahkotanya. Jangan menyentuh atau menggosok akar. Jika memungkinkan dan kondisi pasien mendukung, coba pasang kembali gigi secara perlahan ke soket. Jika langkah tersebut tidak memungkinkan, simpan gigi dalam media yang sesuai seperti susu atau saline dan segera pergi ke dokter gigi.
Sebaliknya, jangan memasukkan kembali gigi susu yang copot. Dokter perlu menangani trauma gigi susu dengan pendekatan yang berbeda untuk melindungi perkembangan gigi permanen anak.
Selain itu, jangan menganggap gigi yang terlihat baik-baik saja pasti bebas dari cedera. Benturan dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan di sekitar gigi yang tidak langsung terlihat.
Dengan demikian, pemeriksaan dokter gigi tetap penting setelah trauma pada gigi.
Gigi Mengalami Benturan? Jangan Menunggu Sampai Sakit
Jika Anda atau anak mengalami gigi patah, gigi goyang, gigi bergeser, atau gigi copot akibat benturan, segera lakukan pertolongan pertama dan cari pemeriksaan dokter gigi.
Anda dapat mengunjungi DokterGigiku.com untuk mendapatkan informasi mengenai pemeriksaan dan perawatan kesehatan gigi.
Sumber dan Referensi Ilmiah
- Fouad AF, et al. International Association of Dental Traumatology guidelines for the management of traumatic dental injuries: 2. Avulsion of permanent teeth. Dental Traumatology. 2020;36(4):331–342. DOI: 10.1111/edt.12573.
- Bourguignon C, et al. International Association of Dental Traumatology guidelines for the management of traumatic dental injuries: 1. Fractures and luxations. Dental Traumatology. 2020;36(4):314–330. DOI: 10.1111/edt.12578.
- Day PF, et al. International Association of Dental Traumatology guidelines for the management of traumatic dental injuries: 3. Injuries in the primary dentition. Dental Traumatology. 2020;36(4):343–359. DOI: 10.1111/edt.12576.
- Alvino L, Nguyen Ha W, Chan WC, Rossi-Fedele G. What is new in the 2020 International Association of Dental Traumatology emergency treatment guidelines? Dental Traumatology. 2021. DOI: 10.1111/edt.12671.
- Review of the IADT 2020 Guidelines. Review of current recommendations for dental trauma, including avulsion, fractures, luxation, emergency management, and follow-up.
