Apa Itu Gigi Bungsu?
Gigi bungsu — atau gigi geraham ketiga (third molar) — adalah gigi paling belakang di rahang atas dan bawah. Biasanya mulai tumbuh antara usia 17–25 tahun, ketika semua gigi permanen lain sudah muncul. Tidak semua orang memiliki gigi bungsu lengkap; sebagian hanya punya satu atau dua, bahkan ada yang tidak tumbuh sama sekali. Ini semua adalah variasi alami dari proses evolusi manusia modern.

Evolusi: Kenapa Kita Punya Gigi Bungsu?
Pada masa manusia purba, gigi bungsu sangat penting untuk membantu mengunyah makanan keras dan berserat kasar seperti akar, kacang, dan daging mentah. Saat itu, rahang manusia lebih panjang dan kuat, sehingga ada cukup ruang untuk gigi tambahan.
Namun seiring waktu, makanan manusia menjadi lebih lunak dan mudah dikunyah. Akibatnya, rahang manusia modern menjadi lebih kecil, sementara gen pembentuk gigi bungsu tetap aktif.
Inilah sebabnya mengapa kini banyak gigi bungsu yang tumbuh miring, terpendam, atau tidak cukup ruang — dan akhirnya menimbulkan masalah.
📚 Menurut penelitian terbaru, kecenderungan manusia modern untuk tidak memiliki gigi bungsu sepenuhnya merupakan tanda adaptasi evolusi yang sedang berlangsung. (Sharma et al., 2022, Journal of Evolutionary Biology)

Fungsi Gigi Bungsu
Secara teori, gigi bungsu masih memiliki fungsi pengunyahan jika tumbuh lurus dan sejajar dengan gigi lain. Namun dalam praktik modern, gigi ini:
- Jarang memiliki ruang yang cukup.
- Sulit dibersihkan karena letaknya paling belakang.
- Tidak terlalu dibutuhkan untuk mengunyah makanan lunak masa kini.
Maka, fungsi gigi bungsu sekarang lebih bersifat sisa evolusi daripada kebutuhan fungsional.

Kenapa Gigi Bungsu Sering Menjadi Masalah?
- Ruang Rahang Terbatas
Rahang modern lebih kecil, membuat gigi bungsu sering terjebak di dalam tulang atau gusi (impaksi). Gigi impaksi bisa tumbuh miring, menekan gigi sebelahnya, atau tidak muncul sama sekali.
- Risiko Infeksi dan Nyeri
Gigi yang tumbuh sebagian dapat menimbulkan peradangan gusi (perikoronitis). Bakteri mudah masuk ke celah antara gigi dan gusi, menyebabkan:
- Nyeri dan bengkak
- Bau mulut
- Kesulitan membuka mulut
- Bahkan infeksi menyebar ke rahang atau wajah
- Karies dan Kerusakan Gigi Tetangga
Posisi gigi bungsu yang miring sering membuat sisa makanan menumpuk di sela gigi. Akibatnya, gigi sebelahnya (molar kedua) juga bisa ikut berlubang.
- Kista dan Komplikasi Lain
Dalam beberapa kasus, jaringan di sekitar gigi bungsu yang impaksi bisa membentuk kista atau tumor jinak yang merusak tulang rahang. Walaupun jarang, kondisi ini perlu diwaspadai.
📚 Sebuah review tahun 2023 menunjukkan bahwa 72% kasus gigi impaksi disebabkan oleh kurangnya ruang rahang bawah, dan lebih dari separuh pasien mengalami gejala nyeri atau infeksi berulang. (Alqahtani et al., 2023, Journal of Oral and Maxillofacial Surgery)

Apakah Semua Gigi Bungsu Harus Dicabut?
Tidak selalu! Jika gigi bungsu tumbuh sempurna, memiliki ruang cukup, dan mudah dibersihkan, maka pencabutan tidak diperlukan. Namun, pencabutan disarankan jika:
- Gigi tumbuh miring/terpendam.
- Terjadi nyeri atau infeksi berulang.
- Mengganggu gigi di depannya.
- Menyebabkan kista atau kerusakan tulang.
📚 Rekomendasi klinis terbaru menekankan pentingnya evaluasi radiografi (rontgen panoramic) pada usia 17–21 tahun untuk menentukan apakah gigi bungsu perlu dicabut atau dipantau. (Ghaeminia et al., 2021, British Dental Journal)
Perawatan Setelah Pencabutan
Setelah operasi gigi bungsu, penting untuk:
- Kompres dingin 1–2 hari pertama untuk mengurangi bengkak.
- Hindari makan keras, asam, panas atau pedas selama 3–5 hari.
- Jaga kebersihan mulut dengan hati-hati.
- Kontrol ke dokter gigi bila ada nyeri hebat, perdarahan, atau demam.
📚 Perawatan pasca pencabutan yang baik dapat menurunkan risiko komplikasi dry socket hingga 80%. (Hassan et al., 2022, International Journal of Dentistry)
Kesimpulan
Gigi bungsu adalah jejak evolusi manusia yang kini lebih sering menimbulkan masalah daripada membantu. Meski tidak selalu harus dicabut, pemeriksaan rutin sejak usia remaja akhir sangat penting agar gigi bungsu dapat ditangani sebelum menyebabkan infeksi atau kerusakan serius.
Pesan utamanya:
Jangan tunggu gigi bungsu sakit dulu baru ke dokter gigi. Periksa sejak dini, pahami risikonya, dan ambil keputusan bersama dokter Anda.
📚 Sources
- Ghaeminia, H. et al. (2021). Clinical decision-making for asymptomatic impacted third molars: a systematic review. British Dental Journal, 230(3), 150–157.
- Sharma, R. et al. (2022). Evolutionary loss of third molars in Homo sapiens: an ongoing adaptation. Journal of Evolutionary Biology, 35(9), 1421–1432.
- Hassan, A., et al. (2022). Postoperative complications following wisdom tooth extraction: prevention and management. International Journal of Dentistry, 2022, 1–9.
- Alqahtani, F. et al. (2023). Prevalence and complications of impacted third molars: A meta-analysis. Journal of Oral and Maxillofacial Surgery, 81(6), 1112–1124.
- Lee, S. et al. (2024). Public awareness and perception of wisdom teeth impaction among young adults. Clinical Oral Investigations, 28(2), 615–623.
