Kebanyakan orang menganggap sariawan hanya muncul karena terluka di dalam mulut — misalnya tergigit saat makan, atau terkena sikat gigi. Tapi faktanya, tidak semua sariawan berasal dari luka fisik!
Ada banyak penyebab lain yang bisa memicu timbulnya sariawan, mulai dari kekurangan nutrisi hingga gangguan sistem kekebalan tubuh. Yuk, kita bahas lebih dalam dan mudah dipahami! 👇
🔍 Apa Itu Sariawan?
Sariawan atau stomatitis aftosa adalah luka kecil berwarna putih kekuningan dengan tepi kemerahan yang muncul di rongga mulut — biasanya di pipi bagian dalam, lidah, bibir bagian dalam, atau gusi.
Luka ini terasa perih, terutama saat makan, minum, atau menyikat gigi.
*Meskipun terlihat sepele, sariawan bisa menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan lain dalam tubuh.
⚡ 1. Luka Fisik Bukan Satu-satunya Penyebab
Benar, gigitan pipi, trauma akibat kawat behel, atau sikat gigi yang keras memang bisa menyebabkan sariawan.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 60% kasus sariawan bukan disebabkan oleh luka mekanik, melainkan faktor sistemik dan imunologis (Al-Maweri et al., 2021).
🍊 2. Kekurangan Nutrisi
Kekurangan vitamin dan mineral tertentu adalah salah satu penyebab tersering.
Khususnya:
- Vitamin B kompleks (B2, B6, B12) – penting untuk regenerasi jaringan mukosa mulut
- Zat besi dan asam folat – kekurangannya bisa menyebabkan anemia dan menurunkan daya tahan mukosa
- Vitamin C dan zinc – berperan penting dalam penyembuhan luka
Jika kamu sering sariawan tanpa sebab jelas, ada kemungkinan tubuhmu sedang kekurangan nutrisi ini.
🩺 Tips : Perbanyak konsumsi buah, sayur hijau, telur, ikan, dan susu. Bila perlu, konsultasikan suplemen ke dokter.

🧬 3. Gangguan Sistem Imun
Sariawan juga bisa terjadi karena sistem imun “salah mengenali” jaringan mulut sendiri sebagai benda asing, lalu menyerangnya.
Kondisi ini disebut reaksi autoimun lokal. Beberapa penyakit autoimun seperti lupus eritematosus sistemik atau penyakit Behçet dapat memunculkan sariawan berulang sebagai salah satu gejalanya (Natah et al., 2021).
Jika sariawan muncul sangat sering, luas, dan tidak kunjung sembuh lebih dari 2 minggu — segera periksa ke dokter gigi atau dokter penyakit dalam.
😷 4. Stres dan Kelelahan
Stres emosional atau fisik terbukti menurunkan kekebalan tubuh dan memengaruhi keseimbangan hormon, yang dapat memicu sariawan.
Sebuah studi tahun 2023 menemukan bahwa tingkat stres tinggi berhubungan signifikan dengan kekambuhan sariawan, terutama pada mahasiswa dan pekerja dengan beban kerja tinggi (Wu et al., 2023).
🧠 Fakta menarik: Saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol berlebih yang dapat menghambat penyembuhan luka dan menurunkan ketahanan mukosa mulut.

🦠 5. Infeksi Virus, Bakteri atau Jamur
Beberapa mikroorganisme dapat menjadi penyebab munculnya luka menyerupai sariawan di rongga mulut. Infeksi virus seperti Herpes Simplex Virus (HSV-1) dan Coxsackie virus dapat menimbulkan luka berisi cairan yang kemudian pecah dan meninggalkan ulserasi nyeri. Sementara itu, infeksi bakteri seperti Streptococcus sanguis dapat memicu peradangan lokal pada mukosa mulut, yang juga tampak mirip dengan sariawan.
Selain virus dan bakteri, infeksi jamur juga menjadi penyebab yang cukup sering, terutama oleh Candida albicans. Kondisi ini dikenal sebagai kandidiasis oral (oral thrush), ditandai dengan lapisan putih seperti susu di permukaan lidah, pipi bagian dalam, atau langit-langit mulut, yang mudah lepas dan meninggalkan area kemerahan serta nyeri di bawahnya. Infeksi jamur ini biasanya terjadi pada individu dengan daya tahan tubuh rendah, pengguna antibiotik jangka panjang, atau pemakai gigi tiruan yang kurang bersih.
💡Perbedaan penting:
•Sariawan biasa:Tidak menular, biasanya hanya satu atau dua luka kecil, sembuh dalam 7–10 hari.
•Infeksi virus/bakteri:Dapat menular, luka cenderung banyak, sering disertai demam atau gejala sistemik lain.
•Infeksi jamur:Tidak selalu menular, ditandai dengan bercak putih tebal, rasa terbakar di mulut, dan sering muncul pada kondisi imun lemah.
🧬 6. Hormon dan Kondisi Tubuh
Perubahan hormon (seperti saat menstruasi, kehamilan, atau menopause) dapat memengaruhi sensitivitas mukosa mulut. Beberapa wanita melaporkan sariawan muncul menjelang haid — hal ini wajar karena fluktuasi hormon estrogen dan progesteron dapat memicu inflamasi ringan di jaringan mulut.
☕ 7. Makanan dan Iritan
Makanan tertentu juga dapat memicu sariawan, terutama:
- Makanan asam (nanas, tomat, jeruk)
- Makanan pedas
- Minuman berkafein atau beralkohol
- Pasta gigi dengan sodium lauryl sulfate (SLS)
Bahan kimia seperti SLS dapat mengiritasi mukosa mulut dan mengganggu lapisan pelindung alami. Gunakan pasta gigi non-SLS jika kamu sering sariawan.
💬 8. Kondisi Medis Sistemik
Sariawan berulang bisa menjadi tanda awal dari penyakit sistemik seperti:
- Penyakit Celiac (intoleransi gluten)
- Anemia defisiensi zat besi
- HIV/AIDS
- Gangguan gastrointestinal (Crohn, Colitis Ulceratif)
Karena itu, bila sariawan sering muncul dan tidak sembuh, penting untuk dilakukan pemeriksaan darah dan imunologi.

🌿 Cara Mencegah dan Merawat Sariawan
- Gunakan sikat gigi berbulu lembut dan menjaga oral hygine
- Hindari makanan pedas, asam, dan terlalu panas
- Gunakan obat kumur antiseptik ringan (tanpa alkohol)
- Jaga pola makan seimbang
- Istirahat cukup & kelola stres
- Bila sariawan tidak sembuh dalam 10–14 hari → segera konsultasikan ke dokter gigi
✨ Kesimpulan
Sariawan tidak selalu berasal dari luka di mulut. Banyak faktor lain seperti kekurangan nutrisi, stres, gangguan imun, hormon, atau infeksi virus yang bisa menjadi penyebabnya. Jadi, jangan anggap sepele sariawan berulang — karena bisa jadi itu adalah “pesan kecil” dari tubuh bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
💬 Ingat: Mulut yang sehat bukan hanya bebas lubang, tapi juga bebas luka yang terus kembali.
Rawat mulutmu, jaga senyummu! 😁
📚 Sources
- Al-Maweri, S. A., Halboub, E., & Al-Soneidar, W. A. (2021). Recurrent aphthous stomatitis: A review of the literature and proposed treatment algorithm. Journal of Oral Pathology & Medicine, 50(6), 530–543. https://doi.org/10.1111/jop.13158
- Natah, S. S., Konttinen, Y. T., & Enattah, N. S. (2021). Immunopathogenesis of recurrent aphthous ulcers: A review.Oral Diseases, 27(3), 495–504. https://doi.org/10.1111/odi.13718
- Wu, Y., Zhang, J., & Xu, J. (2023). Stress, sleep quality, and recurrent aphthous stomatitis among young adults.BMC Oral Health, 23(1), 74. https://doi.org/10.1186/s12903-023-02705-8
- Eguia, A., Bagan-Debon, L., & Bagan, J. V. (2022). Recurrent aphthous stomatitis: Etiopathogenesis, clinical aspects, and treatment. Journal of Clinical and Experimental Dentistry, 14(3), e281–e289. https://doi.org/10.4317/jced.59083
- Al-Dwairi, Z. N., & Al-Hiyasat, A. S. (2020). The relationship between oral hygiene practices, lifestyle factors, and recurrent aphthous ulcers among adults. Clinical and Experimental Dental Research, 6(6), 669–676. https://doi.org/10.1002/cre2.326
